Sabtu, 16 April 2011

Just Love Him, In The Silence

If you can’t reach the star, just look it from your place. If you can’t show your love, just love him from your silence.
*
“Bintang malam, sampaikan padanya.. Aku ingin melukis sinarmu di hatinya..” potongan lirik lagu Kerispatih itu seakan tepat dengan keadaanku sekarang. Ya, disinilah aku. Dalam pekat pukul sebelas malam, aku termenung sendirian di teras samping rumahku, memandang bintang dengan earset bertengger di telingaku. Huft. Kapankah aku bisa melukis sedikit saja sinar bintang di hatinya?
“Shilla, masuk, Nak. Sudah malam..” suara berat papa dari ruang tengah _yang memang berbatasan langsung dengan teras samping_ terdengar memanggilku, lalu segera berganti dengan seruan beliau dan kakakku, Riko. Mereka sedang menonton pertandingan sepakbola nampaknya.
“Iya, Pa. Shilla masuk.” jawabku.
Baiklah, bintang. Seperti malam- malam sebelumnya, kau takkan pernah mendengarku, untuk dapat sedikit saja melukis sinarmu dalam hatinya.
*
“Shilla keboooo. Mau bangun jam berapa lo, HAH?” teriakan kak Riko membuatku terlonjak kaget.
“Apaansih, biasa aja kali, gue udah bangun.”
“Cepetan siap- siap kalo lo gak mau gue tinggal,”
Huh! Terpaksa aku merelakan meninggalkan selimutku yang hangat ini. Baiklah, aku akan segera bersiap untuk pergi ke sekolah pagi ini.
*
“Pagi semuaa..” sapaku pada keluargaku, yang sudah duduk manis di ruang makan.
“Pagi, Shilla.” balas mamaku lembut.
“Elah, buruan nih, udah jam berapa. Lo makan di mobil ajadeh, Shil!”
Kenapa sih kak Riko ini? Sekarang baru pukul enam, tapi ia sudah heboh. Biasanya kami berangkat pukul setengah tujuh.
“Ini baru jam enam, kak,” sahutku santai, kembali mengunyah roti bakarku.
“Ini darurat, Shilla. URGENT. Udah, ayo!”
“Ah, iya. Iya. Ma, Pa, Shilla sama kak Riko berangkat dulu ya,”
“Kita berangkat ya, Ma, Pa.”
“Ati- ati!”
BLAM!
Teriakan mama sudah tidak terlalu kudengar karena kak Riko membanting pintu mobilnya keras dan segera melaju.
*
Hei, tunggu. Ini bukan jalan ke arah sekolahku. Ini....
“Turun, cepet!”
“Hah? I.. Iyaa, kak”
“Kak, ini?”
*
“Cakka! Maaf ya, kakak telat. Ini nih, lama banget Shilla,”
Cakka? Cakka? Dia Cakka?
“Engga papa, kok, Kak. Kak Iel belum lama juga perginya.”
“Oh, ya. Kenalin, ini adek kakak, Shilla. Shil, ini Cakka, adeknya Iel,”
Aku tersenyum kikuk.
“Hai, gue Cakka. Salam kenal, ya!” sapanya ramah.
“Gue Shilla, salam kenal juga,” balasku canggung. Sebelum ini, aku sudah mengenal Cakka, bahkan sangat mengenalnya, tetapi, ia, memang tidak mengenalku. Huft. Dapatkah aku sedikit saja lebih dekat dengannya melalui ini?
Ya, Cakka. Cakka Kawekas Nuraga. Gitaris kebanggaan sekolah, dan aku, mengaguminya, menyayanginya. Bahwa hatinya-lah yg ingin ku lukis dengan sinar bintang. Aku mencintainya, dalam diam. Tak ada yg tahu perasaanku kepadanya, tak terkecuali Sivia dan Agni, sahabatku.
“Shil, kok elo bengong sih?”
“Hah? Oh, ehehehe..”
“Ternyata kita satu sekolah, ya?” tidakkah kau menyadari kehadiranku, Cakka? Apakah aku terlalu invisible bagimu?
“Lo kelas XI juga? Wah, bagus dong. Selama gue sakit, gue bisa diajarin sama elo,”
“I..iiyaa.. Boleh..” tidakkah kau tahu bahwa sekarang hujan sakura sedang melanda hatiku? Mungkin ini hanyalah ajakan tidak penting, soal sekolah dan pelajaran. Tetapi aku merasa sangat senang, Cakka.
“Hahaha, ntar pulang sekolah lo boleh kesini, deh. Ajarin gue pelajaran hari ini, oke? Sekarang lo berangkat gih, udah siang.”
“Gue balik, ya. Get well soon,” pamitku.
“Cak, gue tinggal bentar, ya. Kalo ada apa- apa cepet telepon gue.” sahut kak Riko.
“Sippo, kak, Shil. Bye..”
*
Cakka. Cakka. Cakka. Tawanya masih terngiang di telingaku hingga saat ini.
‘Ntar pulang sekolah lo boleh kesini, deh. Ajarin gue pelajaran hari ini, oke?’
“Shil.. Shilla..” Sivia menggoyangkan telapak tangannya di depan wajahku.
“Shilla! Sadar, woi!” seru Agni.
“SHILLAAAAAAA!” teriak mereka bersamaan di dekat telingaku.
“HA? Eh apaan sih lo pada, gue nggak budek, ya.”
“Lo kenapa sih? Daritadi kita panggilin gak nyaut-nyaut. Malah ngelamun.” Sivia menanyaiku.
“Enggak kok, gue nggak kenapa- napa. Lagi pengen aja,”
Jawaban bodoh. Agni dan Sivia saling berpandangan sambil mengerutkan kening. Aku tidak peduli. Sudah kubilang, tidak ada yg tahu perasaanku pada Cakka, termasuk mereka berdua ini.
TEEEEEEEEET.
Bagus, bel masuk membuatku terhindar dari serbuan pertanyaan mereka berdua. Dan aku akan menyimak pelajaran hari ini sebaik mungkin, agar aku dapat menjelaskan apa yg kudapat pada Cakka nanti, ah, Cakka.
*
“Shil... sttt.. Shil..” panggilan Sivia yg duduk di sampingku, ku acuhkan sedari tadi. Sekarang aku sedang sibuk menyimak penjelasan Pak Duta tentang Termokimia. Padahal sebelumnya, tak sedikitpun aku tertarik pelajaran membosankannya ini. Penjelasannya yg rumit, membuatku sekali- kali menguap. Terang saja, sebelum ini, tidak pernah aku mengerti penjelasan-penjelasan kimia-nya. Mungkin lelah kuacuhkan, Sivia menoleh ke belakang, tempat Agni dan Zevana _teman sebangkunya_ duduk. Dari ujung mataku, aku dapat menangkap mereka tengah berbisik- bisik sambil sesekali melirik ke arahku.
*
Sambil sesekali menyeruput teh botolku, aku membaca- baca ulang penjelasan Termokimia tadi.
“Lo engga makan?” tanya Agni lalu meletakkan sepiring siomay di meja, kemudian duduk di hadapanku. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala, lalu kembali menekuri buku catatanku.
“Tumbenan.. Biasanya kalo abis Kimia lo langsung heboh ngisi perut,” lanjut Agni lagi.
“Lo kenapa sih?” sahut Sivia dari belakang Agni sambil membuka bungkus snacknya.
“Engga” jawabku singkat.
“Shil, gue seneng deh, lo berubah rajin gini.....”
“.... tapi engga usah sampe sebegitu-nya kali.” Lanjut agni
“Haha, kenapa sih? Gue Cuma pengen bisa aja kali,” elakku santai.
“Perubahan lo terlalu mencolok tau, terlalu drastis.”
“Kok lo kesannya kayak gak suka banget sih, Ag?”
Tiba- tiba Agni geragapan kala aku bertanya seperti itu.
“Udah- udah. Kok kalian jadi ngacangin gue gini, sih?” potong Sivia, sebelum Agni sempat menjawab pertanyaanku.
“Sori, deh. Eh, bagi snack lo, dong.” Sahut agni sambil merebut snack di tangan Sivia.
Yasudahlah, tidak perlu kupikirkan masalah kecil begitu. Bisa- bisa malah semakin membesar. Hemm, memang sih kalau dipikir-pikir ini bukan salah Agni juga. Mungkin aku memang terlihat aneh dengan bersikap seperti ini. Tetapi tak apalah, demi Cakka. Batinku.
*
Bel pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Tapi aku masih berdiri mematung di parkiran sekolah. Menyandarkan tubuhku pada mobil yang sama sekali tak berpenghuni tersebut. Sesekali kulirik jam tanganku, rasanya aku tak sabar lagi menunggu. Aku ingin secepatnya berlari ke rumah Cakka. Ya, Demi Cakka, batinku.
“Ah, kak Riko mana sih?” ujarku sambil menghentak-hentakkan kakiku.
Mataku terus beredar di sekeliling parkiran, berharap menemukan sosok kak Riko disana. Setelah lima menit menunggu yang entah mengapa rasanya seperti lima tahun, sosok yang kunantikan datang juga dengan cengiran khasnya.
“Sorry ya Shil, tadi ada tugas tambahan dari Bu Winda, hehe “ jelasnya sambil cengar-cengir.
“Yee, gue itu udah nungguin lima belas menit tau. Lo nggak tau apa Cakka udah nungguin gue, kan kasian entar dia nunggunya kelamaan” tukasku dengan sewot
“Ciee, udah maen janjian aja lo sama Cakka. Cepet banget PDKT lo” goda kak Riko sambil menaik turunkan alisnya.
Aku hanya terdiam. Dalam hati aku merutuki hal bodoh yang baru saja aku lakukan.
“Apaan sih lo kak, udah deh ayo cepet masuk” elakku sambil berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Aku tahu kedokku sudah terbuka di depan kak Riko. Jadi ah sudahlah, pikirku.
Dari kaca spion, aku bisa melihat kak Riko senyum-senyum sendiri melihat gelagatku barusan. Dan tak lama kemudian, dia sudah duduk di sampingku, melajukan mobilnya menuju rumah Cakka.
*
“Kalau yang ini caranya gimana Shil?”
Aku menegakkan tubuhku, memalingkan wajahku ke buku soal-soal yang sedari tadi aku kerjakan bersama Cakka. Ya sudah hampir satu jam kita belajar bersama. Sedangkan kak Riko lebih memilih bermain gitar dengan kak Iel di halaman belakang.
“Eehm..” aku memicingkan mataku, berusaha mengamati dan memahami soal yang ditanyakan Cakka. Soal trigonometri yang cukup susah. Sesaat kemudian tanganku sudah bergerak menggoreskan penaku dia atas kertas, menjelaskan cara mengerjakan soal itu kepada Cakka.
“Gimana, Cak? Lo udah ngerti kan?” tanyaku sambil mengakhiri penjelasanku.
“Em, iya iya gue paham. Thanks ya Shil” jawabnya mantap sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Sesaat aku sempat terpaku saat melihat senyumannya. Senyuman yang entah mengapa menurutku lebih berwarna dari untaian pelangi yang muncul memecah gelapnya mendung, senyuman yang lebih hangat dari sinar matahari di hari pertama musim semi, dan senyuman yang selalu membuatku tak pernah berhenti untuk menharapkannya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku, tak ingin terlena dengan senyuma yang baru saja ia suguhkan di hadapanku.
*
“Woy, Shilla..” sapa seseorsng yang sudah sangat aku hafal suaranya. Aku membalikkan badan dan tersenyum menatapnya. Cakka, orang yang sudah hampir 2 bulan ini menyandang status menjadi ‘sahabatku’. Status yang entah mengapa selalu aku harapkan agar dapat meningkat, batinku pilu.
“Ada apa Cak?” tanyaku basa-basi.
“Nanti lo pasti nonton show gue kan? Awas aja kalo lo ga nonton” katanya sambil merangkul pundakku. aku cukup tercengang dengan perlakuan Cakka, semua tubuhku terasa kaku, tapi cepat-cepat aku menetralkan kembali sistem syarafku yang sempat menegang. Aku tau dia akan tampil di acara pagelaran seni siang ini di aula sekolah, dan tanpa dimintapun aku pasti akan langsung menonton acara itu.
“Oke, gue bakal nonton, tapi habis itu lo harus nraktir gue es cream. Deal?” godaku sambil menaik-turunkan alisku.
“Ye, makan mulu yang elo pikirin” jawabnya sambil mengacak-acak rambutku.
“Berarti deal dong?”
“iya iya” jawabnya sambil menjabat tanganku.
Sesaat kemudian kami sudah melangkah beriringan menuju kantin sekolah. Satu hal yang membuatku tak dapat menghilangkan senyuman dari bibirku, yaitu karena tangan Cakka masih terparkir rapi di pundakkan. Membangkitkan kembali impianku, impianku untuk dapat melangkah seperti ini terus bersamanya.
*
Aku, Sivia dan Agni sedang duduk di aula bagian belakang, kami sedang menyaksikan pentas seni yang sedang berlangsung dengan meriah. Saat ini band Cakka sedang tampil. Tak henti-hentinya aku menatapnya. Ya dia memang sudah seperti medan magnetku, yang selalu menarikku untuk selalu memperhatikannya. Sedangkan di sebelahku Agni dan Sivia tengah berbincang-bincang dengan apa yang barusan mereka saksikan. Samar-samar aku masih dapat mendengar percakapan mereka.
“Eh, itu vocalistnya namanya Oik kan?” tanya Agni sambil menunjuk sosok bernama Oik tersebut.
“Hem, iya” jawab Via singkat
“Gue denger-denger dia lagi deket sama Cakka loh”
“Ah masa sih?” tanya Via dengan nada tak percaya.
Sebenarnya aku sendiri juga agak kaget dengan apa yang barusan aku dengar. Aku ingin bertanya lebih lanjut tentang hal ini, tapi aku takut kalau mereka akan curiga. Jadi lebih baik aku menunggu dan mendengarkan saja. Pikirku mantap.
“Iya, gue denger mereka cinlok gitu di lokasi latihan band. Apalagi mereka kan satu kelas” kini Agni sudah memulai sesi gossipnya
“Emm, bisa jadi sih. Cakkanya cakep, Oiknya cantik, sama-sama anak band dan populer pula. Udah kayak perfect couple deh” cerocos Via tak ingin kalah dengan Agni.
Hatiku mencelos mendengarnya. Tak dapat lagi aku menikmati acara di hadapanku, yang ada dibenakku hanyalah percakapan Sivia dan Agni yang terngiang-ngiang tak mau pergi. Hey tak taukah kalian hatiku sangat sakit saat kalian berbicara seperti itu? Batinku. Tetapi sesaat kemudian aku tersadar. Aku tidak bisa menyalahkan mereka, toh mereka tidak tahu kalau aku mencintai Cakka, kalau mereka tahu, pasti mereka tidak akan berkata seperti tiu di dekatku. Aku berani mencintainya dalam diamku, jadi aku juga harus berani terluka karena diamku.
*
Cinta memiliki aturan sendiri, saat cinta berpihak padamu, dia akan memberikan harapan indah padamu, seperti harapan akan hadirnya seuntai pelangi setelah turun hujan, pelangi yang selalu dapat membuat orang-orang tersenyum mtakjub mengagumi keelokannya. Tapi saat cinta tak berpihak kepadamu, dia akan membuatmu seperti cuaca di laut. Kau tidak akan tahu, angin yang mula-mula tenang, angin laut yang meyapamu dengan lembut itu sebenarnya menyimpan badai besar. Badai yang siap memporak-porandakan hatimu dengan dahsyatnya.
*
Sesuai janjinya, Cakka mengajakku ke kedai es cream yang hampir 2 bulan ini menjadi langganan kami. Hampir setengah jam aku dan Cakka hanya duduk-duduk menikmati es cream sambil diselingi obrolan ringan. Tapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang ingin dikemukakan oleh Cakka.
“Em, Shil gue mau nanya sama lo dong”
Ternayata firasatku benar, ada sesuatu yang disimpannya.
“Nanya aja” jawabku sambil menyendokkan es cream ku ke mulut.
“Lo tau Oikkan?” tanyanya sambil menunduk.
Aku agak tersentak dengan pertanyaan Cakka. Tapi aku berusaha bertingkah sewajarnya. Menutupi segala kegalauan yang meyelimuti hatiku.
Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya tadi.
“Em, gue suka sama dia Shil. Dan... dan rencananya gue mau nyatain perasaan gue ke dia” terangnya agak terbata-bata.
Aku menarik nafas dalam-dalam, tiba-tiba bayangan percakapan antara Agni dan Sivia kembali melayang di benakku. Es crem yang biasanya dapat mendinginkan hatiku, kini malah berubah menjadi bara api yang siap membakar hatiku. Tubuhku seperti terhempas ombak besar tsunami. Menyeretku masuk kedalam pusaran airnya, dan melemparkanku ke padang pasir yang gersang, tandus, dan panas yang membuat tenggorokanku tercekik karena kekurangan air.
“Menurut lo gimana Shil?” lanjutnya. Terlihat jelas ada nada ragu dalam kata-katanya.
Aku terbangun dari lamunku. Berusaha mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Cakka, pertanyaan yang lebih sulit dari soal trigonometri yang pernah ia tanyakan padaku. Ah, kenapa aku harus mengingat masa indah itu, rutukku dalam hati.
“Gimana ya? Ya terserah lo aja sih. Kok lo ga pernah cerita sama gue sih?” aku berusaha menjawab pertanyaannya dengan sewajar dan seceria mungkin, walau aku tahu aku tidak terlalu sukses mempraktekkannya.
“Gue ga terbiasa cerita tentang hal kayak gini ke orang-orang Shil”
“Ya udah, lo ungkapin aja perasaan lo itu. Lo tahu, nyimpen perasaan ke orang itu gak enak Cak. Lo bakalan dapet banyak kesakitan, karena lo hanya bisa diam, meyimpan perasaan itu sendirian. Mending lo ungkapin aja deh.” Entah mengapa kata-kata itu meluncur dengan mulus dari bibirku, mungkin karena itulah yang sedang aku rasakan saat ini.
“Kapan rencananya lo mau nembak dia?” lanjutku
“Nanti malem Shil, jam 7. Lo doain gue ya. Entar kalo sukses kan lo juga yang seneng dapet PJ dari gue. Hehe” jawabnya sambil tertawa renyah.
Aku hanya tersenyum simpul mendengar jawabannya. Tak taukah Cakka hatiku remuk saat ini. Hancur berkeping-keping. Tak taukah kau sudah menjatuhkan bom atom di hatiku? Membakarnya hingga menjadi debu-debu yang tak berarti. Tak taukah kau tentang semua itu? Pikirku sakartis. Entahlah tanpa bisa kutahan setitik cairan bening itu meluncur dari mataku. Tapi dengan cepat ku hapus sebelum ada yang melihatnya. Selalu seperti itu, ‘tidak akan membiarkan orang lain melihatnya’.
*
Aku hanya bisa berjalan mondar-mandir di teras kamarku sambil sesekali memandangi layar HPku atau menatap bintang yang tengah bersinar dengan indahnya. malam ini Cakka akan menyatakan perasaannya pada Oik. Yah ku akui aku iri dengan Oik, aku selalu berhayal dapat berdiri pada posisinya. Posisi sebagai ‘orang yang dicintai’ bukan hanya sekedar ‘sahabat’. Jam tujuh kurang lima menit, detak jantungku semakin cepat, aku tak tahu apa yang kurasakan sekarang, segalanya tersa berkecamuk dalam hatiku. Bercampur menjadi satu.
Aku kembali melirik layar handphoneku, ternyata sudah jam tujuh lebih sepuluh menit. Kenapa Cakka tak kunjung menghubungiku? Apakah dia ditolak? Hingga saking sedihnya ia tak mau menghubungiku, atau dia diterima hingga saking senangnya, dia lupa mengabariku. Segala macam pertanyaan terus berputar di kepalaku. Hingga tepat pada pukul setengah delapan. Handphoneku berbunyi. Sebuah nada mengalun lembut, nada yang menunjukkan adanya pesan masuk.
Kugenggam handphoneku kuat-kuat. Ku hela nafas sebanyak-banyaknya. Kutenangkan hati dan fikiranku. Dengan perlahan ku tekan tombol “open messages” pada layar handphoneku. Sudah kuduga, ada SMS dari Cakka. Sekilas aku membaca pesan singkat itu.
***
Kini aku terduduk di teras kamarku, sendirian. senyuman hambar tertera di wajahku. Biasan cahaya bintang dan bulan yang malam ini menemaniku tampak jelas menerangi wajahku. Membuat cairan bening di wajahku menjadi birkilauan karena terkena cipratan sinarnya. Sebuah lagu yang berbulan-bulan lalu selalu menemaniku kembali terputar lewat melalui iPodku.
“Bintang malam, sampaikan padanya.. Aku ingin melukis sinarmu di hatinya..”
“Baiklah, bintang. Seperti malam- malam sebelumnya, kau takkan pernah mendengarku, untuk dapat sedikit saja melukis sinarmu dalam hatinya” kalimat yang sama seperti berbulan-bulan lalu dan hanya inilah seuntai kata yang mampu terucap dari bibirku, bibir yang selalu saja menyembunyikan sebuah kata ‘CINTA’, bibir yang selalu ku gunakan untuk mencintainya walau hanya dalam diamku.


“if you can’t show your love, just love him from your silence”
***


By: Nurul dan Fita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar