Jumat, 17 September 2010

CStory : 17-18 by Elisabeth Yossy


CStory: 1718



Cakka memandang Shilla, adiknya, serta kedua orangtuanya dengan tatapan sebal. Sedari tadi, mereka hanya sibuk membicarakan tentang hari raya Kemerdekaan yang terjadi pada tanggal 17 Agustus nanti. Tak ada satupun dari mereka yang mau membicarakan tentang ulang tahun Cakka yang tepat sehari setelah hari Kemerdekaan, yaitu tanggal 18 Agustus.
“Kak, kok kamu diem aja sih?” tegur Debo, adik Cakka, yang sejak tadi melihat Cakka hanya diam dalam kecemberutannya.
“Tau, Ka, kamu gak ada rencana apa buat tujuh belasan nanti. Aku kan jadi panitia, kamu nggak ikutan?” tambah Shilla membuat wajah Cakka tambah memburuk.
“Halah, repot. Mending juga ngurusin acara ULANG TAHUN aku besoknya!” sindir Cakka sambil melirik kalender yang tepat berada di sebelahnya.
Mama dan Papa yang sedang berbincang heboh kini menatap Cakka dengan perasaan bersalah. Debo juga tampak tersentak. Sedangkan Shilla hanya tersenyum garing. Sebenarnya kejadian ini sudah sering terjadi, selama 11 tahun Cakka dilahirkan.
“Ya ampun, Cakka, maaf, Mama….,” potong Mama sambil mendekati Cakka dan membelai rambut Cakka lembut.
“Udah biasa, kok,” cetus Cakka sambil menuju ke kamarnya dengan langkah berat, seakan mencoba tegar.
Mama, Papa, dan Debo jadi sedikit merasa bersalah. Sedangkan Shilla, sebagai sahabat Cakka sejak kecil, turut merasakan bagaimana rasanya dilupakan. Sakit. Apalagi selama sebelas tahun ini.

^0^
“Cakka, tumben sendirian, nggak sama Alvin,” tegur Shilla saat di kantin. Kebetulan mereka satu sekolah juga satu kelas. Sama-sama duduk di kelas 7-6.
“Alvin lagi ngerjain PR Geografi di kelas,” jawab Cakka sambil menyeruput lemon tea-nya.
Shilla mengangguk-angguk sambil merebut lemon tea Cakka lalu meminumnya. Cakka menatap Shilla syok sebentar, merasa kalau lemon tea-nya akan habis. Shilla memang biasa melakukan ini. Mereka berdua sudah seperti kupu-kupu dan sayapnya. Tak mampu dipisahkan.
“Jangan di habisin!” teriak Cakka sambil meratapi lemon tea-nya yang baru ia minum seperempat.
Shilla pun mengembalikan lemon tea cakka yang sudah tinggal setengah. Sangat berbeda jauh dengan yang tadi. Shilla hanya nyengir, tak merasa bersalah sama sekali.
“Lemon tea, ku,” ratap Cakka lalu buru-buru menghabiskan lemon tea nya. Takut diminta Shilla lagi.
Shilla hanya terkikik melihat Cakka yang tampak serius meminumnya. Tanpa ia sadari, matanya sudah menatap lekat pada Cakka. Ada sesuatu ketertarikan saat ia menatap Cakka. Mata Shilla seolah tak mau lepas dari Cakka. Cakka sekarang terlihat begitu menarik di depannya.
“Cakka,” panggil Shilla masih menatap Cakka lekat-lekat.
Cakka menelan lemon tea nya sebentar untuk menjawab pertannyaan Shilla. “Apaan?”
“Kamu mau kado apa buat hari ulang tahun?” Tanya Shilla membuat Cakka menatapnya dengan tatapan malas.
“Kamu bener-bener pengen tahu?” balas Cakka dengan nada sinis. Shilla mengangguk tanpa menyadari perubahan ekspresi Cakka. Cakka menghela nafas, pedih rasanya. “Aku Cuma pengen, aku dilahirin bukan pada tanggal 18 Agustus, tanggal di mana orang-orang hanya sibuk dengan hari kemerdekaan, tanpa ingat hari ulang tahunku. Itu doang kok.”
Shilla segera menyadari bahwa apa yang ia sampaikan salah besar. Pertannyaan Shilla justru membuat Cakka semakin merasa kecewa. Padahal, mungkin saja Cakka sudah melupakan kejadian tadi malam. Shilla benar-benar merasa dirinya terlalu bodoh.
“Sorry, Ka. Aku…,”
“Yeee, nih anak malah minta maaf,” potong Cakka sambil menggaruk-garuk kepalanya. Kepala Shilla makin menunduk. Bagaimanapun, ia merasa tidak enak. “Tadikan kamu nanya, ya aku jawab. Kok kamu jadi ngerasa bersalah gitu sih? Nyantai aja kali. Hehe.”
Shilla menatap wajah Cakka yang sekarang tersenyum padanya. Shilla mencoba meneliti, adakah senyum paksaan di sana? Tapi, nyatanya, gak ada. Itu adalah senyuman tulus dari seorang Cakka. Senyuman ketegaran dari seorang anak yang hanya ingin ulang tahunnya diingat.
Shilla segera memeluk Cakka, yang dibalas kekagetan oleh Cakka. Shilla sangat ingin memeluk ketegaran yang tampak ringkih itu. Shilla ingin mencoba menguatkannya. Bagaimanapun, ia adalah sahabatnya. Ia juga suka lupa hari ulang tahun Cakka, ya, karena terlalu sibuk dengan hari kemerdekaan yang selalu membuat Cakka merasa tak nyaman. Bagaimanapun, Shilla juga merasa, kalau ia jugalah penyebab kekecewaan Cakka.
Cakka yang masih kaget pun balas memeluk Shilla dan membelai rambut Shilla. Tubuh Shilla sangat harum. Pelukannya juga hangat. Baru kali ini Cakka merasakan pelukan Shilla setelah sekian tahun bersahabat. Cakka segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan?
“Hem--. Pada ngapain nih? Berbuat tidak senonoh di kantin,” tegur seseorang membuat Cakka dan Shilla melepaskan pelukannya, walau sebetulnya belum ikhlas. Wajah keduanya pun bersemu merah.
“Apaan sih? Berbuat tidak senonoh. Kamu pikir aku ngapain,” ujar Shilla dengan wajah memerah.
“Tau nih, si Alvin. Ngomong-ngomong, udah selesai ngerjain Geo nya?” tanya Cakka mencoba melupakan kejadian tadi.
“Udah kok. Pegel nih tangan aku. Mau refreshing di kantin, eh dapet pemandangan Luna Maya sama Ariel versi sederhana,” ledek Alvin membuat wajah Shilla makin memerah sementara Cakka mendelik ke arahnya namun dengan wajah masih memerah. “Di lanjutin atuh pelukannya. Maaf ya udah ganggu.”
Alvin segera pergi sambil terkikik melihat Cakka dan Shilla yang sekarang sudah salting mendadak. Mereka pun segera melakukan aktifitas masing-masing dalam diam. Ingin mengawali pembicaraan, tapi bingung mau mengawalinya dari mana. Yang terfikirkan hanyalah adegan pelukan yang baru saja mereka lakukan.

^0^
Hari ini adalah tanggal 17 Agustus, hari yang paling tidak disukai Cakka, walau tak dibencinya juga. Bagaimanapun, ini adalah hari kemerdekaan negaranya. Gegap gempita, sorak sorai, dan kemeriahan di RT nya membuat Cakka semakin tak bersemangat. Orang tuanya bahkan tampak ceria kembali. Tak merasa bersalah seperti waktu itu.
Debo tiba-tiba saja masuk ke kamarnya dengan napas tak teratur dan wajah sumringah.
“Kak, keluar dong. Ikut acara malemnya, yuk! Kan udah nggak ikut lombanya. Kak Shilla jadi panitianya loh!” seru Debo antusias.
“Males bangeeet,” jawab Cakka sambil tiduran di kamarnya dan mendengarkan Ipod yang masih menempel erat di telinganya.
Debo segera menghampiri Cakka dan duduk di sebelah kasurnya sambil mencopot headset yang sejak tadi pagi sudah nangkring di kuping Cakka. Cakka segera mendelik marah ke adiknya yang hanya berjarak satu tahun itu.
“Iiiih, rese banget sih!” ujar Cakka kesal sambil merebut headsetnya kembali dari tangan Debo dan kembali meletakannya di telinganya.
“Ayo dong, Kak. Sekali-sekali merasakan indahnya tujuh belasan,” balas Debo sambil menarik-narik tangan Cakka yang sibuk menekan tombol ipod nya untuk mencari lagu yang bagus.
“Ih, apaan sih,” omel Cakka sambil menarik tangannya yang ditarik-tarik Debo. Debo makin cemberut.
“Ayolaaah, Kak. Sekali iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii aja. Kasian tuh Mama udah nyiapin baju tujuh belasan buat kakak,” bujuk Debo lagi membuat Cakka menghela napas pasrah.
“Oke, oke, aku ikut,” ujar Cakka berat sambil melepaskan headset dari telinganya membuat senyum Debo segera terkembang. Cakka segera mengambil pakaian dan handuk yang segera tersampir di pundaknya. “Atas nama Mama! Bukan atas bujukan kamu.”
“Bodo amat, bodo amat. Yang penting kakak ikutan,” balas Debo sambil mengikuti langkah Cakka. “Eh, bajunya udah di siapin Mama di kamar mandi. Pake yang itu aja.”
Setelah berkata begitu, Debo segera ngacir sebelum Cakka membentaknya dengan seribu kata-kata tajam.
“Ngomong kek dari tadi! Aku kan nggak usah bawa-bawa baju dari kamar! Capek tahu naik ke atas lagi! Gak tahu apa ya kamarku tuh ada di pojok?!” omel Cakka sambil melangkah menuju kamarnya dengan derap langkah yang terdengar sangat kasar.

^0^
Pentas acara 17-an yang memang sering diadakan oleh komplek sekitar perumahan Cakka memang rutin diadakan. Acaranya hanya pentas kecil-kecilan, games, doorprize, dan pembagian hadiah untuk anak-anak yang sudah berlomba tadi siang. Acara ini selalu diadakan tepat pukul 7 dan Cakka baru sampai sana jam 8.
“Itu kak Cakka!” seru Debo membuat kedua orang tuanya segera menoleh ke arahnya dengan wajah senang. Debo pun segera menghampiri Cakka. “Kak, kok baru dateng sih? Acaranya kan jam 7?”
“Masih mending dateng kan?” ujar Cakka dengan nada yang agak sinis.
Sebenarnya, Cakka tak ingin bersikap seperti itu. Namun, ketidaksukaannya pada hari ini membuatnya tak bisa menutupi sedikit saja ketidaksukaannya.
Debo pun nyengir pasrah saat mendengar ucapan Cakka yang tajam. Debo tahu, Cakka pasti tidak suka hadir di tempat ini. Tapi, ini satu-satunya cara bagi Debo untuk menebus semua kesalahannya. Kesalahan, karena telah sering melupakan ulang tahun kakak tercintanya. Semoga saja, usaha yang dibuatnya berhasil.
“Oh, ya, aku duduk di mana nih. Pegel tau,” ujar Cakka setelah diam beberapa saat. Cakka juga sedikit merasa tak enak, mungkin saja karena sikapnya tadi, Debo jadi tersinggung.
“Oh, iya, maaf kak,” ujar Debo masih setengah melamun, lalu celingak-celinguk untuk mencari seseorang. “Hmm… itu dia, KAK SHILLA!” panggil debo membuat Cakka menatapnya heran.
“Eh, aku nyari bangku, bukannya nyari Shilla,” kata Cakka dengan agak kesal. Ternyata adik semata wayangnya bukan hanya tak peduli akan ulang tahunnya, tapi tak peduli juga akan kakinya yang sudah mulai terasa sangat pegal. “Woi, de! Kamu dengerin aku nggak sih!”
Tapi, sepertinya Debo benar-benar tak mendengar kata protes Cakka. Matanya masih tertuju pada Shilla yang sedang berlari kearah mereka. Tapi tiba-tiba, Shilla kehilangan keseimbangan yang menyebabkannya terjatuh. Untung saja ada Debo dan Cakka yang sigap untuk menangkapnya.
“Hati-hati Mbak kalo jalan. Nggak ada apa-apa kok jatoh,” nasehat Cakka membuat Shilla nyengir kesakitan.
“Hehe. Iya, Mas. Maaf ngerepotin,” ujar Shilla lalu menatap Debo yang sedang berlari menjauh dari mereka berdua. “Oh, ya, Ka, udah lama?”
“Nggak sih, baru aja. Tapi, kalo kamu nanya aku berdirinya udah lama atau belum ya…. Udah lama,” jawab Cakka membuat Shilla terkekeh.
“Kamu juga sih, bukannya duduk,” kata Shilla sambil berjalan mencari tempat duduk diikuti Cakka. “Nih, kamu duduk di sini aja.”
Cakka pun duduk di bangku yang Shilla suruh. Cakka segera memijit-mijit kakinya yang terasa pegal. Emang dah si Debo, adik durhaka. Kakaknya di biarin aja berdiri. Untung aja ada Shilla.
“Ka, aku ke belakang dulu ya. Masih ada urusan di belakang tuh,” pamit Shilla.
“Iya deh ibu panitia. Selamat bertugas ya,” ledek Cakka membuat Shilla tertawa dan segera meninggalkan Cakka bersama orang-orang yang tak dikenalnya.
Cakka segera memperhatikan ke panggung 17-an. Sekarang sedang ditampilkan sekelompok penari hip-hop mengenakan baju merah putih yang luar biasa keren. Cakka sampai terperangah saat melihatmereka melakukan aksinya dengan melemparkan diri kesana kemari. Kalau Cakka yang melakukan, mungkin sudah patah tulang.
“Kak, udah ngambil nomer buat doorprize belum?” tegur Debo yang tiba-tiba sudah berada di sebelahnya. Cakka sampai tersentak kaget.
“Kamu tuh muncul udah kayak jin aja,” kata Cakka sambil memperhatikan sesuatu di tangan Debo. “Belom ngambil. Emangnya kenapa?”
“Ya kalo belom sekarang ambil,” pinta Debo sambil menyodorkan sesuatu di tangannya yang di dalamnya berisi beberapa nomer.
Cakka segera merogohkan tangannya ke dalam kotak di tangan Debo dan mengambil isinya. Cakka pun membuka isinya dan melihat nomer yang tertera di atasnya.
“Ntar kalo nomer kakak di panggil, kakak maju ke depan buat ngambil hadiahnya,” terang Debo sambil mengusap-usap kepala Cakka, layaknya seorang kakek yang sedang menasehati cucunya.
Cakka segera membetulkan kembali rambutnya yang acak-acakan. “Iya, saya tahu, Kek. Emangnya saya gak pernah ngambil doorprize sampe harus di kasih tau segala.”
“Yeee, emangnya salah ngasih tau,” cibir Debo sambil beranjak pergi.
“Eh, mau ke mana?” panggil Cakka membuat Debo menghentikan langkahnya dan menatap Cakka. “Bete nih sendirian. Kamu mau kemana?”
“Yee, aku kan panitia. Perasaan udah cerita deh,” jawab Debo membuat Cakka melongo. Adiknya juga jadi panitia ternyata. “Nanti deh aku panggilin Kak Shilla buat nemenin Kakak.”
“Kenapa mesti Shilla? Kenapa nggak kamu aja?” tanya Cakka agak kesal.
“Aku kan panitia, sibuk,” alasan Debo yang sebenarnya nggak logis banget. Cakka memandang adiknya tak percaya.
“Shilla juga panitia, apa bedanya sama kamu,” sindir Cakka yang sudah tak dipedulikan Debo. “Bilang aja nggak mau nemenin aku!” sindir Cakka lagi dengan agak sedikit berteriak. Tapi terlambat, Debo dan Cakka sudah terlampau jarak yang jauh.
Cakka menghela nafas berat. Di sini, bukannya disambut hangat, malah dicengin abis-abisan begini. Mendingan nggak usah dateng deh. Kedua orang tuanya juga udah nggak keliatan lagi. Padahal tadi duduk di depan. Ahhhh! Makin bĂȘte aja deh Cakka. 17-an memang hari paling menyebalkan bagi Cakka.
Daripada bosen sendirian, Cakka segera duduk di depan, di tengah-tengah gerombolan cowok-cowok yang sebaya dengannya. Cakka juga cukup mengenal mereka. Masa se-RT gak kenal sih. Mereka juga menyambut Cakka dengan ramah. Mungkin, Cakka bisa sedikit terhibur bila bersama mereka. Rame-rame kan lebih baik daripada sendirian.
“Hei, Ka. Tumben dateng 17-an?” tanya seseorang dari mereka sambil tersenyum ramah.
Cakka memandang ke arahnya merasa bersyukur. Akhirnya ada juga seseorang yang mau mengawali pembicaraan dengannya sebelum Cakka mati bosan di sini.
“Eh, iya. Abisnya bĂȘte di rumah,” ujar Cakka berbohong membuat orang di sebelahnya mengangguk. “Ngomong-ngomong… kamu Rio kan?”
“Iya bener banget! Ternyata aku terkenal juga, ya,” kata Rio sombong membuat Cakka terkekeh pelan. Kayaknya, Rio anaknya asik.
Rio dan Cakka segera menghentikan perbincangan mereka karena sudah acara doorprize. Sebenarnya, Cakka masih ingin berbincang-bincang dengan Rio daripada ngedengerin acara nggak penting ini. Tapi, berhubung Rio sangat tertarik dengan acara doorprize ini, mau nggak mau Cakka menghentikan kegiatan ngobrolnya. Masa Cakka ngomong sendirian. Gila dong.
“Dan, yang mendapatkan doorprize pertama adalah………….,” potong panitia membuat Rio deg-degan setengah mampus. Terlihat dari matanya yang tampak antusias. Sementara Cakka, kertas doorprize nya udah kekuwel-kuwel nggak berbentuk dan sekarang malah Cakka mau buang. “Nomer 18!” seru panitia heboh.
Rio tampak mendengus kesal. Sementara Cakka malah bengong. Itu kan nomernya. Iya! Itu nomernya! Cakka pun segera berdiri dan berjalan ke depan dengan langkah bersemangat. Ternyata menang doorprize bisa sesenang ini juga. Pantesan Rio antusias banget. Cakka juga merasakan tatapan iri Rio.
Panitia segera memberikan hadiah untuk Cakka diiringi senyuman dari Shilla. Rupanya Shilla sedang ada di sana.
“Dan, hadiah berikutnya diberikan kepada……..,” panitia membuat suasana jadi lebih menegangkan. Apalagi Rio, walau Cakka hanya melihat dari atas panggung, tapi sangat terlihat jelas kalau Rio gugup. Panitia segera mendekatkan mike nya membuat Rio meremas kertasnya sangking geregetannya. Cakka sampai tertawa terang-terangan. “Nomer 8!”
Rio segera menekuk wajahnya. Berarti itu bukan nomer yang tertera di kertas Rio.
“Yeeeeeee! Nomer aku disebut!” teriak seseorang yang sangat Cakka kenal. Ya, dia adalah Debo.
Dengan tergopoh-gopoh, Debo berlari ke atas panggung dan berdiri di sebelah Cakka. Debo segera tersenyum dengan wajah bangga seakan baru memenangkan sebuah penghargaan. Debo anaknya emang suka berlebihan dan nggak tahu malu. Cakka juga heran, kok Debo bisa menang. Dia kan panitianya. Masa panitia menang, kayaknya aneh aja.
“Panitia kok menang,” ledek Bapak Panitia saat menyerahkan hadiah kepada Debo. Debo segera tersenyum sumringah. Emang dasar dah nih anak, nggak tahu malu.
“Baiklah, pembagian doorprize nanti akan dilanjutkan jam 12 malam,” lanjut sang panitia membuat sorakan kecewa menggema di lapangan itu. Apalagi suara Rio yang terdengar paling keras.
Debo dan Cakka segera turun dari atas panggung. Debo segera kabur di balik layar untuk melanjutkan tugas panitianya lagi. Sementara Cakka menghampiri Rio yang tampak kecewa berat.
“Sabar ya, Yo, nanti juga kamu dapet doorprize nya,” hibur Cakka yang sudah tahu apa yang dipikirkan Rio dengan wajah kusutnya sekarang.
Rio memandang Cakka dengan tatapan minta di kasihani membuat Cakka jadi menyesal menghiburnya. “Ka, kamu emang sahabat yang baik. Demi menghilangkan kesedihanku, kamu mau nggak traktir aku jagung bakar di depan sambil nunggu jam 12?”
Cakka menganga. Baru kenal udah begini. Rio ini terlalu supel, apa emang nggak tahu malu? Cakka jadi teringat seseorang dengan sikap yang sama seperti ini. Siapa lagi kalau bukan adiknya, Debo.
“Ka, aku lagi sedih nih, masa nggak mau menghiburku dengan nraktir aku. Cuma jagung doang, kok,” rayu Rio lagi masih dengan tatapan sedihnya. Dengan pasrah, Cakka mengangguk membuat Rio tersenyum senang sambil merangkul Cakka menuju ke abang jagung bakar terdekat.

^0^
“Aduh, makasih banget ya, Ka. Jadi ngerepotin,” kata Rio sambil meniup-niup jagung yang udah mampir di tangannya.
“Bukannya kamu yang maksa ya?” sindir Cakka sambil memakan jagung di tangannya. Rio tertawa pelan karena sedang sibuk dengan jagung di tangannya. “Oh, ya, Yo, aku boleh nanya sesuatu nggak?”
Rio mengangguk tanpa bersuara. Dia tak mau kehilangan momen-momen kenikmatan dari jagung bakar itu. Tak ada makanan yang lebih enak dibandingkan makanan gratis.
“Ehm… kenapa sih, kamu pengen banget dapet doorprize?” tanya Cakka membuat Rio tersedak. Cakka tersentak dan segera memberikan minum kepada Rio. “Nih, diminum dulu.”
Rio segera mengambil gelas berisi teh hangat dari tangan Cakka dan meminumnya. Setelah merasa tenggorokannya aman, Rio pun meletakkan gelas itu ke atas meja dan kembali memakan jagung bakarnya.
“Kamu bener-bener pengen tahu kenapa aku pengen banget dapet doorprize?” tanya Rio balik membuat Cakka mengangguk, agak heran.
“Tapi, kalo nggak mau ngasih tau juga gak apa-apa kok. Aku gak maksa,” ralat Cakka buru-buru takut Rio menganggapnya terlalu ingin tahu urusan orang.
“Nggak apa-apa kok,” jawab Rio membuat Cakka langsung mengubah wajahnya ke eskspresi serius. “Aku pengen banget dapet doorprize karena, aku pengen banget ngerasain gimana rasanya dapet hadiah.”
“Hah? Maksudnya?” tanya Cakka lagi membuat Rio tersenyum.
“Yaa… kamu pasti tahulah gimana rasanya dapet hadiah pas ulang tahun. Aku Cuma pengen ngerasain itu doang, kok. Kapan lagi coba dapet hadiah selain ikutan doorprize,” jelas Rio membuat Cakka mengangguk-angguk.
“Emangnya… kamu nggak pernah dapet hadiah… pas ulang tahun?” tanya Cakka hati-hati membuat Rio menghadap ke arahnya. “Sorry, aku terlalu pengen tahu urusan kamu.”
“Nggak apa-apa kok. Aku malah seneng jadi ada temen curhat,” jawab Rio membuat Cakka tersenyum. “Sebenernya… aku nggak tahu hari ulang tahun aku.”
“Kok bisa?”
“Yah… karena nggak ada yang ngasih tau ulang tahun aku kapan. Papaku setres karena sesuatu hal yang sulit dijelaskan. Nginget nama aku aja nggak bisa. Sedangkan mamaku, meninggal bunuh diri karena udah nggak sanggup ngurusin keluargaku yang udah ancur berantakan. Jadi, siapa yang mau ngasih tau ulang tahunku,” jelas Rio masih dengan senyuman yang seakan tak mau pudar dari bibirnya.
Cakka terdiam. Tak tahu lagi mau berkata apa. Sebenarnya, Cakka masih ingin bertanya lebih jauh, tapi Cakka tak mau membuat Rio semakin sedih. Walau dari raut wajah Rio tak menampakkan kesedihan sedikitpun. Berkat Rio, Cakka juga menyadari bahwa masih banyak orang yang lebih tidak beruntung darinya mengenai ulang tahun. Cakka masih suka mendapat hadiah dari orang tuanya. Walaupun telat.
“Udahlah, nggak usah serius mulu dong. Nggak seru, ah,” kata Rio sambil mengacak rambut Cakka yang sedang menunduk. “Oh, ya, mau nraktir aku lagi, gak. Masih laper nih. Hehe.”
Cakka tersenyum lalu mengangguk tulus. Hidup memang harus dibawa nikmat. Ya, kayak Rio ini.

^0^
“Baiklah, pembagian doorprize akan dilanjutkan. Dan yang mendapatkan doorprize ketiga adalah nomer…………………… 19!” teriak panitia membuat seorang bapak berkumis tebal menaiki panggung.
“Bukan nomer kamu lagi?” tanya Cakka membuat Rio menggeleng lesu. Cakka menepuk pundak Rio, berusaha menenangkannya. “Sabar, ya. Semoga abis ini dapet.”
“Baiklah, dan nomer berikutnya adalah nomer…..,” potong panitia membuat Rio kembali dagdigdug, kalau Cakka malah sudah bosan mendengarnya dan juga ngantuk, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. “Nomer terakhir yang muncul adalah…… 98!”
Cakka melirik Rio lagi yang tampak diam. Rio tidak bergerak sedikitpun. Cakka jadi khawatir. Kalau itu memang bukan nomer Rio, dengan senang hati Cakka akan memberikan hadiah doorprize miliknya, kalau memang Rio sangat menginginkannya.
“Rio, kalau misalnya kamu emang kepengen banget tuh hadiah, aku bisa…,”
“Cakka!” jerit Rio membuat Cakka menghentikan ucapannya. Rio juga menggenggam erat tangan Cakka. Matanya berbinar-binar. “Itu nomer aku, Ka! Itu nomer aku!”
Cakka langsung tersenyum senang. “Ya udah, buruan maju! Ntar nomer kamu keburu hangus!”
“Oh, iya bener-bener!” ujar Rio semangat sambil bangkit berdiri. “Woi, panitia itu nomer aku!”
Rio segera berlari kearah panggung dengan semangat 45. Entah mengapa, Cakka juga jadi ikut bersemangat. Rio mengambil hadiah di tangannya layaknya seseorang yang baru saja lulus kuliah dan menjadi sarjana. Wajahnya tampak terharu. Berlebihan memang, tapi itulah Rio.
Setelah Rio turun dari atas panggung, Shilla segera naik ke atas panggung dan mengambil alih mike. Bunyi gendang yang tak jelas asalnya pun bergemuruh meriah. Cakka bingung menatap sekeliling, sementara Rio masih sibuk dengan hadiahnya.
“Teman-teman yang berbahagia. Kita sudah membacakan nomer doorprize yang berisikan 18, 8, 19 dan 98,” kata Shilla membuat semua perhatian tertuju kearahnya. “Dan dari nomer-nomer itu ada hubungannya dengan hari kelahiran seseorang, yang sampai saat ini dan semasa hidupnya belum pernah merayakan hari ulang tahunnya. Dan untuk itu, pada jam 12 lewat 5, tepat pada tanggal 18 Agustus 2010, kita merayakan hari ulang tahun sahabat kita tercinta, Cakka Kawekas Nuraga!”
Cakka tersentak. Dia tak tahu lagi harus berkata apa. Ini terlalu mendadak. Rasa kantuk yang semula melandanya juga hilang seketika. Cakka segera menatap Shilla yang sedang tersenyum padanya. Cakka tak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ulang tahun Cakka kali ini akan dirayakan?
Kembang api yang menggelegar di langit hitam itu, seolah menjawab pertanyaan Cakka. 18-08-98. Itulah yang digambarkan kembang api itu. gemuruh gendang pun semakin semangat bertalu-talu. Cakka masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ulang tahunnya dirayakan. Betapa itu sangat membahagiakan.
Kedua orang tua Cakka segera muncul sambil membawa kue berhiaskan lilin berjumlah 12 di atasnya, sementara Debo membawa pisau yang sepertinya dipersiapkan untuk memotong kue. Rio yang ada di samping Cakka pun segera memeluknya dan membisikkan ucapan selamat kepada Cakka.
Cakka ingin meniup lilin di kue itu, tapi, orang tuanya melarang. Mereka mengisyaratkan Cakka untuk melihat kearah yang ditunjuk Debo. Cakka pun mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk Debo.
Sekelompok anak paskibra datang dengan membawa sebuah bendera. Bendera itu bergambar Cakka semasa kecil sampai sekarang. Cakka geleng-geleng kepala melihatnya. Siapa yang membuat ide se-ekstrim ini. Tiga anak yang bertugas mengibarkannya sudah siap dan akan menaikannya ke atas layaknya bendera merah putih sungguhan.
“Bendera siap!” teriak salah satu petugas dengan suara bass-nya.
“Kepada, sang Cakka Kawekas Nuraga, nyanyiiiiiiiiiiiii grak!” perintah Debo membuat Cakka cengo seketika.
Piano dari tangan Shilla mengiring begitu indahnya. Lagu 17 Agustus yang diubah liriknya pun menggema ke seantero lapangan itu. Cakka sampai nggak berkedip melihatnya.

18 Agustus tahun 98
Itulah hari kelahiran si Cakka
Hari berbahagia, keluarga Nuraga, hari lahirnya Cakka Kawekas Nu… Ra.. Ga
Sekali berbahagia, tetap bahagia
Selama Cakka di dunia ini
Kita berbahagia, berbahagia, menyenandungkan lagu ini.
Kita berba-hagia, berba-hagia, merayakan ulang tahun

Tepuk tangan meriah memenuhi lapangan itu. Rasa puas, bahagia, senang, terharu, bercampur aduk menjadi satu. Cakka segera meniup lilinnya begitu lagu ‘tiup lilin’ berkumandang dan memotong kue begitu lagu ‘potong kue’ berkumandang. Cakka segera memeluk kedua orang tuanya dan memberikan kue pertama kepada mereka.
“Ma, Pa, makasih ya buat ulang tahun Cakka yang indah ini,” ujar Cakka sambil memeluk Mama-nya erat.
Mama membalas pelukan hangat Cakka. “Sama-sama, sayang. Maafin Mama juga ya yang sering ngelupain ulang tahun kamu karena berdekatan dengan hari kemerdekaan.”
Cakka melepaskan pelukannya dan menggeleng. “Nggak masalah, kok Ma. Cakka juga nggak butuh dirayain dengan hebring kayak gini lagi. Hehe.”
Mama mengelus rambut Cakka diikuti Papa.
“Gimana ide kita, hebat kan?” tanya Debo yang juga ikut-ikutan mengelus rambut Cakka. Bukan mengelus sih, lebih tepatnya ngeberantakin. Heran deh sama Debo, seneng banget ngeberantakin rambutnya.
Cakka membetulkan rambutnya yang berantakan. “Bukan hebat, lebih tepatnya lebai.”
“Yang penting, kamu seneng kan?” tanya Shilla yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Cakka tersenyum sambil mengacak rambut Shilla. “Heran deh, cowok kok senengnya ngacak-ngacak rambut. Ngiri ya nggak punya rambut panjang? Haha.”
“Ngapain iri sama kamu? Rambut penuh kutu aja sombong,” canda Cakka sambil menarik hidung Shilla membuatnya meringis kesakitan.
“Oh, ya Kak. Hadiah doorprize nya dibuka dong. Itu hadiah dari Kak Shilla,” ujar Debo sambil menunjuk kado di tangan Cakka.
“Hah? Kado ini?” ulang Cakka sambil menunjuk kadonya membuat Debo mengangguk. “Ini kan hadiah doorprize, masa dari Shilla. Ini mah dari semua panitia.”
“Ihhh, kakak nggak liat apa, kalo bungkus kado kakak beda sama hadiah doorprize yang lain,” ujar Debo kesal. Cakka menatap kado Rio dan orang-orang yang mendapatkan doorprize. Memang benar. Kado yang lain hanya dibungkus Koran, sementara Cakka dibungkus kertas kado berwarna merah-putih.
“Eh, iya juga, ya. Bodoh banget sih aku. Masa beginian doang nggak sadar,” kata Cakka sambil mengelus-elus kadonya.
“Ya udah, sekarang buka dong” kata Debo gemas. Cakka pun segera membukanya.
“Eh, jangan dibuka sekarang dong!” cegah Shilla. Tapi terlambat, Cakka sudah keburu membuka kadonya. Cakka terperangah melihat isi kadonya. Sementara Shilla menundukkan kepalanya. “Kan aku udah bilang, bukanya di rumah aja.”
Debo terbahak. Semua orang yang ada di situ juga ikut tertawa. Shilla makin menundukkan kepalanya.
Kado yang Shilla berikan adalah sebuah celana dalem berwarna merah putih seperti bendera, dan terdapat tulisan ‘Cakka 12th’ yang terlihat Shilla jahit sendiri. Sementara, di bagian pinggirnya, berjahitkan tulisan ‘Shilla’. Mungkin maksud Shilla supaya Cakka bisa mengingat itu adalah kado pemberian Shilla. Tapi, tanpa diberi tanda pun, Cakka akan selalu mengingat pemberian Shilla yang ajaib itu.
“Kasihan amat bendera Indonesia disamain sama…. Huakakakakakk!” tawa Debo semakin menggelegar diikuti yang lainnya. Cakka segera menjitak Debo saat melihat Shilla yang tampangnya sudah nggak karuan.
“Nggak kok, Shil. Hadiahnya bagus. Beneran deh,” hibur Cakka sambil menaikkan kepala Shilla supaya menghadapnya. Shilla tersenyum. Tapi, kemudian menunduk lagi karena sangat, sangat, sangat malu melihat tatapan orang di sekelilingnya yang memandangnya geli. “Ya udah, kita pergi aja dari sini. Aku pengen jalan-jalan sama kamu. Aku pengen cerita banyak.”
Cakka pun menarik tangan Shilla dan membawanya pergi dari situ. Ia juga tak ingin Shilla merasa bahwa hadiahnya aneh. Memang sih agak ajaib, namun jarang orang berpikiran mau memberikan hadiah itu. Lagipula, hadiah itu juga sangat berguna untuk Cakka.
“Ya, ya, ya. Kok aku ditinggalin sih,” keluh Debo saat melihat sekelilingnya mulai bubar karena acara resminya juga sudah selesai. “Aku kan males pulang. Pengen begadang sekalian.”
“Sama aku aja, De,” jawab Rio sambil merangkul Debo membuat Debo menatapnya sinis.
“Pasti ada imbalannya deh,” kata Debo yang sudah tau bagaimana sikap asli Rio.
Rio nyengir sambil melirik tukang bakso yang sedang nongkrong di sebelahnya. “Kayaknya, itu boleh juga, tuh.”
Debo segera melirik kantongnya dan mengeluarkan dompetnya sambil melihat isinya. “Ayo, dah. Kita kencan berdua. Emangnya Cuma Cakka sama Shilla yang bisa berduaan.”
Rio tersenyum. Sebodo teinglah sama Shilla dan Cakka, yang penting, Rio ditraktir lagi. Dasar Rio. Maunya gratisan aja. -_-

karya : ELISABETH YOSSY
^0^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar