Rabu, 19 Januari 2011

Aku Bukan Kenanganmu (A Short Story FanFiction)

Sender : My Prince

09.01.2011 13 : 37

Buruan dandan, I’ll be there soon :)

***

Pendulum jam itu bergerak dan berdenting duakali menunjukkan tepat pukul dua siang. Siang yang cukup cerah, suhu sinarmatahari berada pada suhu ideal bagi tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Ah,terlalu ilmiah ya? Jika ditranslate dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti,suhu siang ini sangat tepat untuk menikmati semangkuk es jenis apa pun.

“Ting...tong,” suara bel rumah menggema ke penjururuangan. Gadis itu merapikan rambutnya sebentar sebelum berlari keluar kamaruntuk membukakan pintu.

Laki-laki muda itu sedang berdiri membelakangipintu teras rumah, bersandar pada salah satu pilar. Memasukkan kedua tangannyake dalam saku celana sembari memandangi point of interest halaman rumah ini.Sebuah air mancur mini lengkap dengan kolam ikan terletak di sudut halamanrumah. Dia sedang akan mencoba menghirup udara segar ketika pintu rumah initerbuka.

Laki-laki itu berbalik dan mengucapkan sebuahkata yang terlalu sering diucapkan untuk membuka pertemuan. “Hai!”

Gadis yang masih tampak bersembunyi di balikpintu itu tersenyum. Kemudian membukakan pintu dengan sempurna dan keluar untukmenyambut kedatangan princenya. Tapi...dia mengamati penampilan laki-laki itu.Celana jeans dan kaos biru donker? Sebentar sebentar. Ini terlalu santai.Terlalu santai jika dibandingkan dengan penampilannya.

“Hei,” kata laki-laki itu sambil terkekeh.“Kamu terlalu formal, Shilla sayang!” komentarnya melihat gadisnya mengenakansebuah dress meskipun dress itu simple.

“Kamu juga,” balas Shilla. “Terlalu santai.Emang kita mau kemana?”

Laki-laki itu mendekat ke arah Shilla,meletakkan kedua tangannya di pundak Shilla dan memutar tubuh itu hinggamembelakanginya.

“Kenapa sih, Kka?” tanya Shilla heran denganperlakuan Cakka.

“Kamu,” kata Cakka sambil mendorong pelantubuh itu masuk ke dalam rumah. “Ganti pakaian yang lebih santai. Kita mau kepantai.”

“Ke pantai?”

“Udah cepetan ganti!” katanya sambil memaksatubuh Shilla masuk kembali ke dalam rumah.

***

Hamparan pasir putih itu terbentang dari ujungbarat ke ujung timur, menghambur di tepian pantai yang beralun tenang. Di ujungbarat dan timur, tampak beberapa batuan dan karang turut serta menambahkeindahan panorama pantai ini. Angin pantai yang khas datang menyapa dua sejoliyang tengah duduk di sepanjang semen hitam yang memang di design sebagai tempatbersantai. Di bawah pohon yang berdaun cukup lebat ini, mereka duduk menghadaplazuardi laut.

“Kok tumben banget sih ngajakin ke pantai?”tanya Shilla sambil menselonjorkan kedua kakinya, melampaui batas antara semendan pasir. Dia menoleh ke arah Cakka yang duduk dengan memeluk kedua lututnyasantai.

“Nggak suka ya?” Cakka gantian menoleh padaShilla dan tersenyum ketika memandangi wajah cantik itu. Rambut panjang gadisdi hadapannya ini menari-nari tertiup angin, sebagian jatuh di bagian wajahnya.Cakka menggerakkan tangannya untuk menyibakkan anak rambut itu dan sepertibiasa, Shilla hanya tersipu malu menerima perlakuan itu.

“Mmm,” Shilla mencoba menutupi kegugupannyakarena perlakuan Cakka barusan. Respon dalam dirinya memang tidak pernahberubah, degup jantungnya selalu berpacu lebih cepat tiap kali Cakkamemperlakukannya demikian. “Suka sih, udah lama nggak ke pantai. Tapi heranjuga kenapa kamu milih pantai, biasanya kan kamu lebih suka nonton atau nyasarke time zone. Lah ini? Pantai? Kayaknya kok nggak Cakka banget!”

Cakka terkekeh. Terdiam untuk beberapa saatdan kembali menikmati panorama pantai, menerawang jauh ke hamparan biru dihadapannya. “Karena pantai ini indah. Ya kan, Ra?” katanya kemudian masihdengan tatapan lurus ke depan.

Shilla tersenyum kecut mendengar sapaan itu.Dia membuang muka. Ini sudah ketiga kalinya Cakka memanggilnya ‘Ra’ semenjak merekadatang di tempat ini. Dia menunduk. Dan alasan itu, sungguh tidak masuk akal.Jelas bukan itu alasan Cakka mengajaknya kemari. Bukan. Cakka bukan tipikalorang yang suka dengan keindahan pantai semacam ini. Shilla tahu itu.

“Oh iya, Shill,” kata Cakka yang diam-diam disyukuriShilla karena akhirnya Cakka ingat dengan namanya. “Emang kamu nggak sukapantai ya?”

Shilla tersenyum tipis, senyum yang sangatdipaksakan. “Pertanyaanmu yang tadi kayaknya punya inti yang sama deh!”

“Oya?” Cakka menoleh cepat ke arah Shilla.

Shilla mendecakkan lidah. “Ayolah, Kka, akutahu kamu sedang tidak konsen!” umpatnya dalam hati. Dia memutuskan untuk tidakmenjawab pertanyaan Cakka.

Hening. Hanya deburan ombak kecil yangterdengar sayup di telinga mereka. Arak-arakan buih itu seakan mengambarkanhati Shilla yang mulai bergejolak. Ada perasaan-perasaan kecil yang menyeruakdalam hatinya. Perasaan itu. Muncul lagi.

“Main air yuk!” Cakka meraih pergelangantangan Shilla. Shilla menatap Cakka sebentar dan akhirnya beranjak.

Mereka berdua berjalan bersisian di sepanjangbibir pantai, menikmati kelembutan pasir pantai lewat kulit kaki mereka yangsengaja tidak memakai alas. Matahari sudah agak condong ke barat, sinarnya jugasudah menghangat tak sepanas tadi.

Shilla masih berjalan lurus menyusuri hamparanpasir, sedangkan Cakka entah kenapa sudah tidak di sampingnya lagi. Sepertinyaberhenti sejenak. Shilla tetap berjalan menikmati sepoi angin yang ditawarkanoleh laut. Siapa tahu angin itu dapat menerbangkan gundukan kegalauan dalamhatinya.

“Woi, Shill,” teriak Cakka dari belakang.Shilla menoleh dan. . .

“Cipak!” percikan air laut bersarang di wajahShilla.

“Cakkaaaaa,” teriak Shilla manja sambilmengelap wajahnya. Detik selanjutnya dia sudah berlarian mengejar Cakka, sambilmembawa pentungan (?). Cakka pun berlari lebih cepat untuk menghindari Shillayang terkadang berlaku bar-bar kalau Cakka menjahilinya.

“Stop! Stop! Stop!” kata Cakka sambil berhentimembungkuk, ngos-ngosan! Dia menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yangkering. “Capek!”

Shilla berdiri di samping Cakka sambil melipattangannya di depan dada. “Hah, cemen, segitu aja capek!” katanya sambil mencibir.

Cakka menoleh cepat, dia menegakkan tubuhnyakembali dan langsung memiting lengan Shilla. “Apa kamu bilang? Mau aku ceburinke laut?” katanya sambil menyeret-nyeret Shilla ke arah laut.

“Ahhh, Cakka Cakka jangan dong!” Shillameronta-ronta ingin melepaskan diri, namun tangan Cakka lebih kuat menahanlengan Shilla.

“Haha, salah sendiri ngatain aku cemen! Belompernah diceburin ke laut kan? Ha?” Cakka masih menariknya sambil tersenyumlebih jahil. Kaki-kaki mereka kini telah menyentuh pingggiran air laut.

“Ceburin aja kalo tega!” Shilla menjulurkanlidah.

“Kenapa nggak? Ayo!”

“Ahh, ahh, becanda, Kka!”

“Nggak ada becanda-bencandaan!” Cakka menariklengan Shilla lebih keras. “Itu konsekuensi karena kamu telah berani mengejekCakka!”

“Hah? Sebegitunya!”

“Biar! Sini,” Cakka menyeret Shilla lebih jauhhingga tinggi air laut berada pada lutut mereka.

“Ahh! Ampun, Kka!” teriak Shilla sambilmemasang muka melas, kali aja Cakka prihatin.

Cakka berhenti. Tuh kan iya, Cakka prihatin.Tapi kini raut mukanya lebih serius. “Minta maaf dulu sama Pangeran Cakka!”

“Ha? Nggak!” Shilla memalingkan wajah soknggak peduli.

“Ceburin apa minta maap?”

Shilla menatap wajah Cakka yang masihtersenyum menggoda. “Sungguh diriku dilanda dilema. Pilihan yang sulit!”katanya sambil sok berpikir keras.

“Cepetan! Minta maap! Atau aku ceburin nih?” ancamCakka.

Shilla mendecakkan lidah. “Ck, iye iye, akuminta maap!”

“Apa?”

“Minta maap!”

“Nggak ikhlas banget!”

“Ihh, iya deh! Pangeran Cakka yang ganteng,Shilla minta maaf yah!” rajuk Shilla manja.

Cakka tersenyum puas sambil mengacak-acak rambutShilla. “Ihh, gemes tauk!” kata Cakka. Dia kemudian menggandeng pergelanganShilla. “Duduk lagi yuk, Ra, capek!”

Shilla tertegun, dia terdiam, senyum yangtadinya ada di bibirnya menyusut. Kakinya tidak bergerak dari tempatnya berdiripadahal tangan Cakka telah menariknya untuk berjalan, meninggalkan tempat ini.

“Kenapa?” tanya Cakka melihat Shilla yangtidak merespon ajakannya. Shilla memalingkan wajah. Cakka yang sudah berjalansatu langkah dihadapannya mendekat lagi.

“Ini adalah keempat kalinya kamu manggil aku‘Ra’!” kata Shilla pelan.

Cakka terhenyak. Raut mukanya menampakkan rasabersalah. Kesalahan yang sudah berulang kali ia lakukan selama empat bulan inibersama Shilla. Dia menunduk sebentar, tak ingin mengucapkan kata maaf karenaitu sudah terlalu sering ia ucapkan dan toh akhirnya ia langgar lagi. Tak adagunanya! Ia memutuskan untuk menggerakkan kepalanya ke arah barat danmemicingkan mata ketika melihat sesuatu di arah sana.

“Kamu,” kata Cakka pelan. “Balik ke tempatyang tadi ya! Aku beliin minuman!”

Shilla mendesah pelan, ia tahu Cakka berusahamengalihkan pembicaraan agar tak mengungkit masalah itu lagi. Shilla hanyamengangguk sebagai jawaban. Hal yang sudah terlalu sering ia lakukan. Denganberat hati, ia berjalan gontai ke tempat tadi.

Shilla termenung sambil menatap lurus kedepan. Pikirannya sudah terpenuhi masalah itu. Ya, hanya masalah itu. Cakkamemang sudah sering memanggilnya ‘Ra’ atau pun ‘Zahra’. Nama kekasihnya yangsudah putus selama setahun belakangan ini. Shilla tahu, mereka putus karenakepindahan Zahra ke Aussie. Zahra akan menetap di sana dan mengambil keputusanuntuk mengakhiri hubungan mereka. Tidak ada masalah di antara mereka, jadi wajarsaja jika Cakka terus saja teringat akannya.

Shilla menggerak-gerakkan telunjuknya di ataspasir, membentuk pola abstrak untuk mengurangi kegalauan hatinya. Tapi, sampaikapan Cakka akan seperti ini? Mencintai Shilla dibalik bayang semu seorang yangseharusnya sudah menjadi masa lalunya. Apa tadi? Mencintai? Dan bahkan saat iniShilla ragu apakah cinta itu ada di antara mereka.

Shilla menghembuskan nafas berat, dia masihmengukir sesuatu di atas pasir itu. Entahlah. Dia tak pernah tahu kenapa diabisa bertahan. Mungkin karena Cakka adalah orang pertama yang mampu membuatnyatersanjung, mampu membuatnya melayang dengan perlakuan-perlakuannya. Seseorangyang telah sukses membuat tersipu-sipu saat memandangi wajahnya. Ya, karenaCakka yang pertama. Karena dia mencintai Cakka, dan itulah yang membuatnyabertahan.

Zahra. Ingatan Shilla kembali ke sosok itu.Mungkin iya ia tidak secantik Zahra, tidak sebaik Zahra, tidak memiliki bakatseperti yang dimiliki Zahra, tidak sepopuler Zahra, tidak memiliki semuakelebihan yang dimiliki Zahra. Tidak. Siapa sih Shilla dibandingkan Zahra?Harusnya Shilla sadar akan hal itu dari dulu. Dia siapa? Dia tidak mungkinmampu menggantikan Zahra. Sesak memenuhi rongga hatinya tiap kali mengingatakan hal ini. Dia tidak memiliki apa pun. Karena dia berbeda dengan Zahra,karena dia bukan Zahra, karena dia Shilla. SHILLA. Lagi-lagi Shillamenghembuskan nafas berat, berharap kegalauannya akan sedikit terobati. Diamenyadari satu hal kini. Bahwa sebenarnya ia lelah dengan kondisi ini.

“Hei!” suara Cakka menyadarkan dari lamunanpendeknya. Pendek? Lamunan akan hal ini tak pernah menemui ujung.

Cakka membawa dua cone es krim rasa tiramisudan menyodorkan salah satunya kepada Shilla. “Nih, mumpung panas-panas gini.Lumayanlah!” Setelah Shilla menerima es krim tersebut, Cakka duduk di sampingnya.

Shilla melihat es krim itu dan begitu tahurasa es krim itu, tiramisu, ia tersenyum muram. Ia sudah tidak berminat lagi. Iamenunduk mengamati es krim yang ada di genggamannya kini dengan lesu.

“Zahra suka tiramisu ya?” tanya Shilla.Setengah mati ia menahan sesak dalam dadanya tiap mengungkit masalah itu.

Cakka yang baru saja membuka bungkus es krimitu menoleh cepat. “Nggak usah bahas itu lagi, Shill! Please!”

“Tapi iya kan?” Shilla mendesak. Ia hanyaingin semua ini lebih jelas. Itu saja.

“Tahu darimana?” Astaga, Cakka sebenarnyabodoh atau tolol sih *C-Luv, peace --V*.

Shilla menutup matanya. Dan Lihatlah, betapaCakka tidak peka dengan hal ini. Betapa Cakka selalu tidak sadar dengan apayang dia lakukan. Tidak sadar setiap kali memanggil Shilla dengan nama Zahra,tidak sadar dengan apa yang dia lakukansebenernya lebih karena bayang-bayang Zahra.

“Kamu tahu kan, Kka, aku nggak suka tiramisu.Aku udah pernah bilang kan dulu?” kata Shilla berat. Mengungkap kenyataan bahwaCakka lebih ingat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Zahra ketimbangdirinya.

Cakka terhenyak. Lagi dan lagi dan terus sajadia seperti ini. Penyesalan itu sudah tidak ada gunanya lagi. Ingin rasanya iamemaki dirinya sendiri, yang terlalu bodoh dengan urusan ini. Ia sudah segenaphati berusaha melupakan kenangan itu, tapi nyatanya tak semudah yang iabayangkan. Ingatan itu terus dan terus saja melekat di benaknya. Bahkan untukmelupakannya, ia harus menyakiti seseorang. Seseorang yang sebenarnya terlalutidak pantas untuk menerima perlakuan ini.

Shilla menyodorkan kembali cone es krim itukepada Cakka. Jelas. Es krim sudah tak menarik lagi. Cakka menerima es krim itudan memutuskan meletakkan kedua cone es krim, es krimnya dan es krim Shilla, diatas pasir. Biarlah ia melumer.

Untuk beberapa waktu mereka terdiam, Shillahanya menunduk mencari cangkang kerang yang mungkin saja bisa ia lemparkanjauh. Sejauh ia bisa memendam semua ini. Sedangkan Cakka? Ia sudah pasrah, iatahu ia salah.

Cakka memberanikan diri untuk meraihpergelangan tangan Shilla. “Kita pulang aja yuk, Ra!” Ops! Tiba-tiba Cakkasendiri yang beraksi hebat dengan panggilan itu. Arghhhhh! Kenapa satu sukukata itu muncul lagi? Cakka merutuki sendiri kebodohannya. Ingin rasanya Cakkamembenturkan kepalanya, yang telah mengkomando secara tidak ia sadari untukselalu melakukan hal bodoh itu.

Shilla menunduk, tersenyum kecut, danmelepaskan pelan genggaman tangan Cakka. Air matanya mulai menggenang dipelupuk matanya. “Sebenernya kamu pacaran sama siapa sih, Kka? Aku atau Zahra?”tanyanya dengan nada suara bergetar. Ia menahan agar air mata itu tidakterjatuh.

Cakka. Ia sudah kehilangan semua akalnya untukmenjawab pertanyaan Shilla. Rasa bersalah itu hampir tak ada gunanya. Tiapwaktu ia merasa bersalah, tapi toh dirinya tak bisa lepas dari semua itu. Iapasrah menerima segala konsekuensi dari semua ini.

“Shill, mungkin kata maaf udah terdengar basibahkan kadaluarsa di telingamu, tapi,” Cakka tak mampu meneruskan kata-katanya.“Ck,” dia mendecakkan lidah dan terdiam sebentar hingga akhirnya mengambilancang-ancang untuk berhati-hati mengucapkan kalimat ini. “Kamu sama Zahrapunya banyak kesamaan.”

“Tapi aku bukan Zahra. Aku Shilla.” Shilla takbisa membohongi bahwa hatinya mulai berontak.

“Aku tahu, Shill, aku tahu. Dan itulah yangmembuat aku suka sama kamu. Sungguh, di awal aku memang tertarik denganmu,dengan Shilla. Tapi, tapi entahlah. Semakin lama aku bersama kamu, semakin akuselalu teringat dia. Aku pikir aku mampu melupakannya, tapi ternyata,” Cakka takmeneruskan kalimatnya.

“Tapi ternyata kamu selalu ingat sama dia kan?Selalu ingat tempat kesukaannya kan? Pantai ini, kamu mengajakku ke sini jugapasti dengan alasan yang sama. Karena dia suka dengan tempat ini kan?”

Cakka terpojok, entah kenapa kata-kata itubegitu menohok dirinya. Karena ternyata itulah kenyataan yang selama initerjadi, yang selalu coba ia sangkal. Namun. Tak mampu. Cakka mendesah pelan.“Ternyata dia belum bisa hengkang secara sempurna dari ingatanku, dan justrukamu yang membangkitkan kenangan itu.”

Shilla masih menunduk. Gejolak dalam hatinyaitu makin tak karuan. Akhirnya. Akhirnya Cakka mengakui hal itu juga. Hal yangsebenarnya sudah Shilla pastikan selama ini. Shilla tersenyum tipis, menyadarikebodohannya sendiri.

“Kalian terlalu mirip, Shill. Kalian yangselalu tersipu tiap kali aku menyanjung kalian, kelembutan kalian, kalian yangsering manja tapi sebenernya dewasa.”

Jlep! Pengakuan itu begitu menyayat hatiShilla. “Ayo, Kka, terus saja ucapkan semua itu. Terus! Terus ungkapkankenyataan dibalik semua ini! Biar aku nggak setengah-setengah lagi merasakansakit ini!” gumamnya, dalam hati.

“Entah, Shill, aku memang bodoh!”

Shilla beranjak. Terdiam sebentar sambil memejamkanmata, mencari kekuatan untuk mampu membuka mulut. “Aku rasa kamu harusmemikirkan ulang semua ini. Dan itu butuh waktu!”

Cakka ikut berdiri, dan ia tahu arahpembicaraan Shilla. Ia akan menerima segala sesuatu sebagai konsekuensi darisikapnya selama ini. Ia juga tak mau terus-terusan menyakiti Shilla kan?

“This is the end of this story,” kata Shillamantap. Cakka menunduk pasrah. Shilla berbalik untuk meninggalkan Cakka.Meninggalkan semua sakit hatinya.

“Shill!” kata Cakka. Shilla berhenti dan entahbujukan darimana ia berbalik lagi, menghadap Cakka. Cakka berjalan mendekat kearah Shilla, berdiri tepat dihadapannya. “Boleh aku memelukmu untuk yangterakhir?”

Shilla tak menjawab, ia hanya menunduk.Mengamati butiran pasir yang harus rela menyaksikan akhir dari hubungannya. Cakkamendekat lagi dan detik selanjutnya Shilla sudah berada dalam dekapan Cakka.

Shilla memejamkan mata, aliran bening ituakhirnya terbentuk di pipinya. Bahkan dekapan Cakka pun tak mampu meredamhatinya yang memberontak. Rasanya berjubel batuan besar terjejal di hatinya,memenuhi seluruh rongga hatinya. Menyesakkan. Ia mencintai Cakka, masihmencintai seseorang yang mendekapnya kini. Tapi apalah daya. Kenangansepertinya telah mengalahkan cinta yang ia tawarkan. Ah, ayolah Cakka! Lepaskandekapanmu! Ini hanya akan menambah kepiluan hati Shilla.

Shilla menarik diri dari dekapan Cakka,menunduk sebentar untuk menyusut air matanya. Ia memberanikan diri untukmendongak, menatap wajah Cakka yang kini tak terbaca. Ia mencoba untukmemberikan senyum, senyum yang sebenarnya begitu menyakitkan. Cukup dua detiksaja, ia lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat ini.

***

Lupakan aku

Kembali padanya

Aku bukan siapa-siapa untukmu

Kucintaimu

Tak berarti bahwa

Kuharus memilikimu slamanya

(D’masive-di antarakalian)

-THE END-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar