Rabu, 19 Januari 2011

Apa Salahku (A Short Story)

Apa Salahku (A Short Story)



“sori vin, aku ngga bisa…”


“ntaran aja ya vin.. aku lagi sibuk”


“males ah, lain kali aja ya vin”


“aku udah ada janji sama temen aku, jadi maaf, aku ngga bisa”


Yap, selalu… selalu kalimat-kalimat itu yang kamu ucapin tiap kali aku ngajak kamu, entah itu untuk jalan-jalan, main ke rumahku, atau sekedar makan siang bersama. Bingung, aku beneran bingung
banget sama semua sikap kamu akhir-akhir ini ke aku. Semakin menjauh.. itu yang
ku rasa.. kamu menjauh dari aku, dan entah karena apa, aku pun tak tau…


***


Oke, kenalin .. gue Alvin, itu tadi sekilas cerita tentang pacar gue Shilla yang akhir-akhir ini mulai berubah, dia udah ngga kayak dulu lagi. Tapi, walaupun gitu.. gue tetep mau positif thinking
kok sama dia. Bukan kah berburuk sangka adalah hal yang buruk, lagi pula..
mungkin saja dia lagi sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya dan gue harap itu
emang bukan cuma sebuah alasan dia buat menjauh dari gue.. I hope..


***


Pagi ini matahari bersinar begitu cerah, hari minggu ini gue berniat buat ngajak Shilla jalan, kangen gue sama dia.. udah lama kita gak ketemu, sekitar 1 bulan lah.. ya, walaupun kita sekampus
(beda jurusan).. oke, kayaknya gue harus nelpon dia dulu deh sebelum gue
berangkat kerumah dia.


“hallo beb..” sapa gue pada Shilla setelah dia mengangkat telepon.


“hai.. haloo beb, kenapa?” jawab Shilla sedikit gugup. Kenapa Shilla musti gugup? Lagi pula Alvin hanya meneleponnya kok.


“main yuk, kangen nih sama kamu..” ajak gue.


“ehm… ehm.. gabisa beb, aku udah janji sama bunda mau ngater belanja, lain kali aja ya, gapapa kan?” tolak Shilla.


“yaaaah.. masa ngga bisa sih? padahal kan udah lama banget kita ngga ketemu beb. Apa kamu ngga kangen sama aku?” tanyaku.


“ha? Kangen.. ya, aku kangen lah sama kamu”


“aku juga kangen banget sama kamu beb, makanya main yuuk, ayolah pliis.. Shilla cantik deh” Rayuku.


“beneran deh aku ngga bisa, maaf yaaa” tolak Shilla lagi. Aku menghela napas panjang. Yasudah lah.


“oh gitu ya, jadi beneran ngga bisa? Yaudah deh, lain kali aja.. bye beb.. love you”


“bye”. Klik, gue putusin sambungan telepon antara gue dan Shilla. Yap, seperti yang gue duga, dia pasti nolak. Tapi, its ok.. gue bisa rubah rencana gue untuk hari ini. Hem.. gue putusin
buat main ke taman kota. Kayaknya disana asik deh.



Shilla P.O.V


Hufftt.. lagi-lagi Alvin ngajak gue pergi. Jelas gue ngga mau lah.. males juga kali, lagian gue udah ada janji juga sama orang lain.. hehhe..


Dddrrrrrtttt… eh, hape gue geter, siapa yah yang nelpon? Apa Alvin lagi? Gue menebak-nebak.


‘Cakka Calling’.. yes Cakka, klik..


“hallo my dear..” ucapku.


“gimana, jadikan kita perginya?” Tanya Cakka dari seberang sana.


“ya so pasti jadi donk..” jawabku.


“hm,,, 15 menit lagi aku sampe ke rumah kamu, siap-siap ya.. dandan yang cantik ya sayang” ucapnya.


“oke deh, bye my dear..”


“bye”. Telepon terputus.



Alvin P.O.V


Udah lama keliling-keliling di taman, tapi, ga ada satupun yang seru. Ke bioskop deh.. siapa tau disana ada film yang seru, lumayan bisa sedikit ngilangin penat.


:: Di Bioskop ::


‘gilaaa.. antriannya panjang bener’ ucap gue dalam hati. Sambil nunggu antriannya sedikit lengang, gue pilih duduk di bangku deket loket. Gue edarkan pandangan gue ke sekeliling area bioskop.
“Shilla” ucap gue pelan. Sama siapa dia? Kok sama cowo? Wajah lelaki yang duduk
di samping Shilla.. tidak begitu jelas terlihat. Tapi, sepertinya gue pernah
liat dia, tapi dimana ya?.. jadi inget, tadi waktu gue ajak jalan, dia nolak,
katanya mau ngaterin nyokapnya belanja, kenapa sekarang malah ke bioskop?
Bareng cowo lagi. Sejak kapan bundanya Shilla berubah jadi laki-laki dan sejak
kapan kita bisa berbelanja di area bioskop? Gue mulai pusing, dada gue sesek
banget liat pemandangan kayak begini, gila aja.. pacar gue mesra-mesraan sama
cowo lain di depan mata gue. Gimana ngga ancur hati gue?


Gue beranjak dari kursi yang tadi gue dudukin. Ga ada niat buat ngelabrak Shilla sekarang. Ngga ada niat buat dateng dan minta penjelasan sama Shilla sekarang. Oke, gue ngeDOWN… gue memilih untuk
pulang kerumah dan gue harus renungin apa salah gue, apa dosa gue ke dia sampai-sampai
dia tega nolak ajakan gue demi jalan sama cowo lain.


***


Malem ini ngga ada bintang seperti malem-malem kemarin. ya, itu karena sejak tadi sore hujan mengguyur kota Jakarta. Gue duduk dibalkon kamar gue, gue termenung.. gue rasa, gue harus introfeksi
diri.. tentang kenapa akhir-akhir ini Shilla berubah.



FLASHBACK : ON


Sore ini gue berniat ngajak Shilla buat dinner di sebuah café di dekat pantai. Setelah Shilla menyetujuinya, gue lalu bergegas jemput dia make mobil kesayangan gue. Udah sekitar 3 minggu ini gue
kenal Shilla, dia baik, dia manis, dia cantik, dia ceria dan ramah.. gue
ngerasa nyaman kalo lagi ada di deket dia, dan gue pikir, dia juga ngerasain
hal yang sama sama gue.



:: Di Cafe::


“gimana Shil, kamu suka ngga?” Tanya gue.


“suka, suka banget.. kereen lagi.. romantis pula” ucap Shilla kagum.


“apa? Lo suka sama gue? Lo bilang gue keren dan romantis? Thanks Shilla” ucapku sedikit bercanda.


“yeee… bukan lo kali Vin, tempatnya” ujar Shilla sambil menjulurkan lidahnya kepadaku. Kami tertawa bersama.


“Shil, duduk disini deh.. kita liat sunset dulu..” ajak gue. Shilla hanya menurut.


“kita itung bareng-bareng yuk.. mulai dari sepuluh”. Shilla mengangguk.


“10.. 9.. 8.. 7.. 6.. 5.. 4.. .3.. 2.. 1.. kereen” ucap kami bersamaan.


“keren ya Vin sunsetnya.. indah banget tau ngga” ucap Shilla sembari tersenyum.


“iya Shil, aku juga mikir gitu.. indah, kayak kamu” ucapku sambil menggoda Shilla dan tersenyum jahil ke arahnya. Shilla mencubit pinggangku.


“gombal yaaa.. masih kecil juga udah pinter gombal.. yee” ucap Shilla sambil tertawa.


“idih.. aku udah gede gini juga.. masih aja dibilang kecil” ucapku sambil cemberut.


“ih, Alvin cemberut, lucu deh.. mirip bebek.. hahahahaha” tawa Shilla kembali terdengar. Kami terdiam beberapa saat.. hening….


“Shil…” ucapku memecah keheningan diantara kita.


“hmmm…” jawab Shilla sambil menghadapkan wajahnya kearahku.


“Shil.. ngga kerasa yah udah 3 minggu kita deket” ujarku. Shilla tersenyum.. senyumnya, setiap kali aku lihat senyumnya hatiku terasa beku.. seperti berada di kutub utara.. hahaa.. aneh..


“Shilla, selama aku deket sama kamu, aku ngerasa nyaman banget, kamu baik, perhatian dan pengertian.. aku suka sama kamu Shil”. Lalu Shilla menatapku..


“kenapa?” tanyaku pada Shilla.


“ngga apa-apa kok” jawab Shilla.


“malem ini juga, aku pengen kamu jadi pacar aku Shil” ucapku sedikit memaksa. Ku genggam kedua tangan Shilla, dingin.. mungkin dia gugup, sama sepertiku.. kurasa…


“Shil, kamu mau ngga jadi pacar aku? Jadi sesuatu yang indah dalam hatiku..” tanyaku serius. Shilla menunduk. Ku lepaskan tangan kananku yang tadi ku gunakan untuk memegang tangan Shilla. Aku
sentuh dagunya.. ku angkat wajahnya agar dia tidak lagi menunduk.


“so, gimana jawabannya Shil?” tanyaku lagi. Shilla terdiam sepertinya dia sedang berfikir.


“ya Alvin.. aku mau” jawabnya singkat, tapi sudah menjawab segala pertanyaan hatiku saat ini. Kemudian, refleks ku peluk Shilla.. “thanks banget ya Shil” ucapku.


2 bulan telah berlalu. Aku dan Shilla semakin dekat, dia semakin terasa spesial di hatiku. Tapi, semua itu berubah, saat aku dan Shilla berniat untuk makan siang bersama diluar kampus, dan
disana.. dengan tak sengaja Shilla bertemu teman lamanya..


“hai, Shilla ya?” ucap seorang laki-laki dibelakang kami, saat aku dan Shilla sedang mengantri. Shilla menoleh, begitu pun aku.. seketika itu juga Shilla memeluk laki-laki itu, ada rasa cemburu
dalam hatiku, begitu hebat rasa sakitnya.. apa Shilla tidak tau, aku disini..
aku pacarnya.. ada disampingnya saat dia memeluk laki-laki yang belum ku kenal
itu.


“Cakka,,, Cak… gue kangen banget sama lo.. lo kemana aja?” ucap Shilla sesaat setelah dia melepaskan pelukannya. ‘oh, Cakka ya namanya.. tapi dia siapanya Shilla?’ aku mulai bertanya-tanya dalam
hatiku..


“gue kuliah di Aussie Shil dan sekarang gue lagi liburan di Indo. Sorii ngga pernah kasih kabar” ucap lelaki itu yang kini telah ku ketahui namanya adalah Cakka..


“yaudah, berhubung gue lagi mau makan siang, lo gabung aja bareng gue” ajak Shilla pada Cakka tanpa meminta persetujuan dahulu padaku. Kami bertiga duduk di sebuah meja dengan 4 kursi.
Shilla dan Cakka saling berhadapan, sedangkan aku duduk di samping Shilla.
Shilla dan Cakka semakin hanyut dalam perbincangan mereka. Sampai-sampai Shilla
lupa bahwa dia datang kemari bersamaku, bukan bersama Cakka. Aku dapat
menyimpulkan sesuatu dari semua cerita yang mereka bicarakan, bahwa Cakka
adalah teman Shilla semasa SMA.


Setelah kejadian kemarin.. Shilla, dia berubah, sikapnya menjadi tak sama lagi. Berkali-kali aku meneleponnya, tapi tak juga diangkat. Berpuluh-puluh kali pula ku kirimkan pesan singkat
kepadanya, tapi nihil, semua pesanku tidak ada satu pun yang dibalasnya.


Sepulang kuliah, aku selalu berusaha menemuinya di kampus, dengan mendatangi dia di kelasnya.. tapi, nyatanya itu sia-sia, Shilla ngga ada.. pernah ku coba untuk datang kerumahnya. Tapi, Bi
Inah.. pembantu Shilla.. bilang, bahwa Shilla sedang tidak berada di rumah.
Lebih dari 3 minggu hubungan aku dan Shilla nampak tidak jelas. Aku seperti
terabaikan, terasa seperti sampah, barang bekas yang tak berguna, cepatlah ini
berakhir tuhan, aku rindu Shilla.


FLASHBACK : OFF



Hari ini juga aku mantapkan hatiku untuk menemui Shilla, tidak perduli bagaimana pun caranya, aku butuh penjelasan dari Shilla tentang hubungan ini.


Pukul 16:00 aku sampai di depan rumah Shilla, aku parkirkan mobilku di depan rumah Shilla, aku pencet bel rumahnya berkali-kali, tapi tak ada tanggapan, rumahnya pun terlihat sepi. Aku pun menelepon
Shilla, tapi sayang.. ponselnya tidak aktif. Aku putuskan untuk menunggu Shilla
disini.. 30 menit.. 1 jam… 2 jam.. 3 jam.. 4 jam.. aku tertidur.. “Alvin” pekik
Shilla, aku terbangun mendengar suara Shilla. “Shilla, akhirnya kamu pulang
ju…” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku. Seorang laki-laki yang sepertinya
tidak asing bagiku datang.


“my dear, ini belanjaan kamu mau di taruh dimana?” ucap laki-laki itu tanpa memandangku. Apa? ‘my dear’ apa artinya itu? Itu bukan kah sebuah panggilan
‘sayang’? aku butuh penjelasan!!


“Shil, apa maksud kamu dengan semua ini, dan siapa sebenarnya dia?” Tanya ku sedikit emosi. Shilla terlihat tegang.


“emm.. emm”


“ayo, Shil.. jawab, siapa dia?” tanyaku lagi.


“dia.. emm.. dia Cakka, mantan aku waktu SMA dan sekarang aku cuma temenan sama dia” jawab Shilla sedikit ketakutan.


“apa? Temen? Yakin cuma temen?” ucapku menyudutkan. Aku berjalan menuju Cakka, aku datang dan langsung mencengkram kerah bajunya.


“apa maksud lo? Lo mau rebut dia dari gue?” ucapku begitu emosi.


“santai bro, santai.. lepasin dulu tangan lo ini dari baju gue, dan gue bakal jelasin semuanya ke elo, asal lo lepasin tangan lo ini” ucap Cakka. Kulepaskan genggaman tanganku dari kerah
baju Cakka dengan kasar.


“cepet lo jelasin sekarang!!” perintahku.


“oke, gue jelasin ke elo sekarang, lo inget kan kalo kita pernah ketemu di café beberapa waktu yang lalu, itu juga awal pertemuan gue dengan Shilla, setelah sekian lama kita ngga ketemu.. dan
seperti yang lo ketahui, Shilla mantan gue waktu SMA.. dan gue dateng lagi ke
Indo emang dengan tujuan untuk menemui Shilla dan ngajak doi balik lagi ke
pelukan gue” jelas Cakka. Gue kembali geram, dan kembali gue cengkram kerah
bajunya.


“eitss.. bentar dulu bro, gue belum selesai cerita, dengerin dulu” ujar Cakka. Gue lepasin (lagi) tangan gue dari bajunya.


“setelah itu gue dan Shilla kembali deket, dia ngaku sama gue kalo lo tuh temennya, bukan pacar dia” deg, hancur banget hati gue denger pengakuan Cakka.. Shilla tega banget sama gue, dia ngga
tau betapa sayangnya gue sama dia, betapa rela gue berkorban demi dia, tapi apa
balasannya? Dia malah gini sama gue, mungkin salah gue juga, jadi cowo terlalu
baik.


Gue alihkan pandangan gue kearah Shilla, gue lihat dia lagi nangis, pengen banget saat itu juga gue peluk dia untuk sekedar nenangin hatinya. Tapi, kayaknya sekarang bukanlah saat yang tepat buat
ngelakuinnya.


“semakin hari gue semakin yakin kalo Shilla lagi sendiri, dengan dia selalu mau tiap kali gue ajak pergi” ujar Cakka meneruskan ceritanya. Oh… jadi ini alesan Shilla selalu nolak ajakan gue.. ya,
karena dia lebih milih jalan sama Cakka, cinta masa lalunya di bandingin sama
gue yang notabene pacar dia saat ini.


“suatu hari, gue ajak Shilla ke suatu tempat, gue nyatain lagi cinta ke Shilla.. gue minta dia balik ke gue, dan dengan mantap Shilla bilang ‘iya’ ”. What? Ternyata Shilla ngeduain gue, oke
fine.. ‘BUGH’ .. tanpa ba.. bi… bu.. lagi, gue layangkan tonjokan gue tepat di
muka Cakka, penuh emosi.. dan penuh rasa kebencian.. Cakka jatuh tersungkur,
gue ngga perduli sama dia. Gue samperin Shilla yang lagi nangis disana.


“Shil, jadi kamu maunya apa? Apa kamu mau hubungan kita sampai disini aja? Apa kamu lebih milih dia dibanding aku? Apa dia lebih baik dari aku? Apa aku ngga pernah ngertiin kamu, sampai-sampai
kamu tega ngeduain aku kayak gini?” tanyaku bertubi-tubi pada Shilla. jujur,
sakit hati gue saat ngomong semua itu, tapi semua itu emang harus gue ucapin,
demi mendapat penjelasan dari Shilla. Bukannya menjawab, Shilla malah semakin
keras menangis. Lalu kudekap tubuh Shilla, hangat.. aku rindu saat-saat seperti
ini, saat aku mendekap Shilla, dan kini semua terwujud.. tapi, yang aku mau
bukan dalam situasi seperti ini. Kulepaskan dekapanku. Ku tatap kedua mata
Shilla, ku temukan penyesalan dimatanya.


“Shil, jadi kamu maunya gimana? Aku bakalan terima apapun keputusan kamu, yang penting kamu bahagia dalam endingnya.. sumpah aku rela” ujarku lagi. Sekarang Shilla mendekapku, begitu
erat. Aku lepaskan dekapannya dari tubuhku, karena yang aku butuhkan sekarang
adalah kejelasan, bukan kehangatan.


“aa.. aalvin” Shilla mulai berbicara.


“ya Shil, jadi apa keputusanmu?” tanyaku. shilla kembali meneteskan butiran bening dari matanya. Aku tau itu, karena butiran itu jatuh mengenai tanganku. Sebab saat itu, aku sedang berlutut sambil
menggengam kedua tangan Shilla yang sedang duduk di kursi.


“aku.. hiks.. lebih milih” Shilla kembali diam.


“Siapa Shil? Siapa yang kamu pilih?” tanyaku tak sabar. Kudengar suara Cakka yang sedang meringis kesakitan di ujung sana, karena tojokkan ku tadi, yang kulayangkan padanya dengan begitu kuat..
dan tetap aku tak peduli, begitu pun dengan Shilla, dia tetap membiarkan Cakka
kesakitan disana, tidak ada tindakan untuk menolongnya saat itu juga.


“Alvin, kamu harus janji ya.. kamu harus terima apapun yang aku pilih” ujar Shilla. Aku mengangguk. Saat ini aku mulai pesimis, sepertinya Shilla tidak akan memilihku, tapi kucoba buang jauh-jauh
pikiran itu. Aku menatap Shilla lekat-lekat, begitu pun Shilla.


“Alvin, selama aku jadi pacar kamu, aku bahagia.. bahagia banget, ngga pernah sekali pun kamu buat aku sedih” aku tersenyum mendengar penuturan Shilla.


“Tapi, bersama Cakka.. aku pun merasa bahagia.. terlebih lagi, rasanya aku kembali menemukan sesuatu terpenting yang dulu pernah hilang dari hidupku”. Muka ku memerah, bukan karena marah, tapi
karena aku ingin sekali menangis.. tapi sialnya, aku adalah seorang lelaki.


“jadi Alvin, maaf.. kayaknya aku ngga bisa nerusin hubungan kita ini, aku lebih milih Cakka, maaf” Ucap Shilla sambil terisak, dan refleks aku langsung melepaskan genggaman tanganku darinya.
Kecewa, sungguh kecewa.. aku ngga nyangka kalo Shilla lebih milih masa lalunya
dari pada kehidupannya kini. Menyesal dulu aku pernah mengenalnya, harusnya
dari awal aku tak perlu bertemu dengannya, dan mungkin aku tidak akan pernah
merasakan sakit, sesakit ini.


Aku bangkit, lalu pergi meninggalkan Shilla begitu saja, tanpa berkata apa-apa, karena tujuanku telah terpenuhi, yaitu mendapat jawaban dari semua pertanyaan hatiku.


Ku masuki mobilku yang sedari tadi kuparkirkan di depan rumah Shilla, aku injak gas mobilku agar aku cepat-cepat enyah dari rumah Shilla, sungguh aku enggan untuk menemuinya lagi, bahkan untuk
melihatnya pun –walau sekilas- aku tak mau. Tiba-tiba saja hujan jatuh
membasahi bumi, langit seakan merasakan hal yang sama sepertiku saat ini.
Sungguh, walaupun kisahku dengan Shilla berakhir buruk seperti ini, aku tetap
bersyukur bahwa dia pernah menjadi bagian hidupku.


Ku injak pedal gas mobilku semakin kuat, dan itu membuat mobilku melaju semakin cepat. Kacau.. begitu kacau pikiranku saat ini.. yang aku pikirkan adalah Shilla dan kebodohan diriku sendiri yang
tidak dapat membuat Shilla tetap bertahan dalam pelukanku.. lampu lalu lintas
di perempatan jalan menyala berwarna merah, tapi aku tidak perduli.. aku tetap
melajukan mobilku dengan kecepatan penuh.. dan tanpa ku tahu, dari samping ada
mobil truck yang juga melaju dengan kecepatan tinggi dan… ‘DUUAAARR’..


Sakit, pusing, aku merasa tubuhku penuh dengan darah, sekilas kulihat sekelilingku banyak sekali warga yang mengerumuniku.. ku coba untuk bangkit, tapi begitu sulit.. ringan, sekarang aku
dapat bangkit dengan mudah.. tapi, apa? Aku bisa melihat tubuhku sendiri tanpa
perlu bercermin? Bahkan saat ku coba meraih pintu mobilku, benda itu sudah
tidak dapat ku sentuh.. semua seakan hampa, seperti bayangan.. ada apa
denganku?


Siapa pun, gue disini.. kenapa? Kenapa mereka semua ngga ngehirauin gue? Apa gue ngga terlihat? Ah entah lah.. tapi, samar-samar ku dengar seorang warga berkata, bahwa nadiku telah berhenti.. apa
mungkin aku telah meninggal dunia? Tapi mengapa? Aku masih ingin hidup, aku
masih ingin mencari pengganti Shilla untuk menemaniku, tapi mengapa ini
kenyataan yang ku dapat.. miris sekali rasanya hidupku ini.


Sesaat kemudian, kulihat ada cahaya diatas sana, begitu terang dan putih… tiba-tiba saja tubuhku terangkat menuju cahaya itu, entah apa yang membuatku dapat melayang seperti ini.. aku memasuki cahaya itu.. perlahan
cayaha itu tertutup dan hilang….




THE END

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar