Jumat, 18 Maret 2011

Beda (cerpen)

Sebenarnya, dalam hati aku ingin terus menyangkal kenyataan itu. Menyangkal fakta yang baru saja aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku meninju bangku yang ku duduki dengan kepalan tanganku. Cukup membuat tanganku sakit. Tapi cukup meluapkan rasa emosiku, walau hanya sedikit. Aku menghembuskan nafas secara kasar. Ahhh! Aku mengambil batu dari kolong bangku -yang entah mengapa ternyata banyak sekali batu-batu kecil, dan melemparkannya ke danau yang berada di depanku. Berusaha membuang rasa penat dan sakit itu. Tapi naas, gagal.

Ku ingin bertanya
Sungguhkah kau sayang aku?

Aku kembali duduk di bangku. Percuma, sebanyak apapun aku melempar batu tak akan membuat rasa sakit ini menghilang. Aku menutup wajah menggunakan kedua telapak tanganku. Membiarkan air mataku tumpah di baliknya. Setidaknya dengan begini tak ada yang melihat aku sedang menangis.
Tadi, ngapain sih, kamu berduaan di café sambil suap-suapan gitu? Ngapain sih, kamu mengusap bibir cewek itu? Ngapain sih, kamu ketawa bareng cewek itu? Ngapain sih, kamu mengusap poni cewek itu?
Bukannya itu semua cuma kamu lakuin buat aku? Bukannya cuma aku? Oh…ternyata enggak ya.
Berarti…kau membohongiku. Tadi pagi, waktu aku meminta kau untuk mengantar aku ke toko buku, kau bilang, mau mengantar Kak Zevana ke Supermarket. Ternyata? Memangnya, Kak Zevana bisa berubah wujud ya? Dan gak jadi ke supermarket, jadinya ke café? Café yang jadi saksi bisu kita berdua? Di tempat favorit kita berdua, lagi.
Aku menggelengkan kepala. Bersuaha sekuat tenaga untuk menyangkal semua prasangka buruk tentangmu. Aku berusaha berpikir positif. Kau tak mungkin setega itu, kan, sama aku?

*

“Kamu kok gelisah banget sih?” aku langsung bertanya begitu, ketika kau berulang kali mengecek jam tangan yang melingkar gagah di pergelangan tangan kirimu.
Kau menatapku, lalu menggeleng kecil, “Ah, gak apa-apa.” Elakmu. Lalu kembali menekuni Tiramissu kesukaanmu. Sayang, sekecil apapun kau berbohong padaku, aku tetap bisa mengetahuinya. Membacanya melalui bola matamu.
“Bener?” tanyaku lagi, berharap kali ini kau akan jujur padaku.
Kau kembali menatapku lalu tersenyum kecil. Senyum yang selalu terbawa ke dalam mimpi indahku. “Serius. Ayok lanjutin makannya, macaroni kamu masih banyak, tuh. Katanya, tadi laper.”
“Kenyang.” Sahutku datar. Sedikit kesal. Aku tahu. Tapi aku sangat tidak mau kalau apa yang aku pikirkan memang benar. Bibirku sedikit dikerucutkan.
“Lho, sekarang kamu yang kenapa?” kau balik bertanya kepadaku, menaruh sendok kecil di atas piring tiramissu mu.
Aku menggeleng, “Nggak kok. Udah lanjutin. Aku laper lagi.” Lalu aku memotong asal macaroni ku dengan kesal. Sabar Shil…
Hening
Kau sibuk dengan Hot cappuccino mu, sedangkan aku masih mengunyah macaroniku dengan kesal. Hanya dentingan suara sendok, garpu, atau pisau yang beradu dengan piring atau cangkir yang terdengar. Ah! Ini sudah ke 7 kalinya kau melirik jam tanganmu, semenjak terakhir kali kita berbicara. Kau janjian dengannya?
“Abis dari sini mau kemana?” tanyamu, setelah aku menghirup Jus starwabeery ku sekaligus, sampai habis.
“Terserah. Aku masih kangen sama kamu.” Jawabku, sedikit manja. Kau tersenyum, lalu mengacak pelan poniku. Sudah 2 minggu kita tidak bertemu. Rasanya ada batu besar yang mengganjal di hatiku, dan hanya mampu menghilang ketika aku melihat senyumanmu untukku.
“Aku juga kangen sama kamu.” Balasmu seraya tersenyum. “Ke toko buku, mau? Katanya kemarin mau beli buku? Maaf ya, aku gak jadi nganterin?”
Aku mengangguk malas, tapi tetap tersenyum, setidaknya hari ini bukan untuk beradu mulut dan ego denganmu. Hari ini untuk melepas rindu denganmu.
Lalu, setelah kau memanggil pelayan dan membayar semuanya, kita bangkit dan beriringan berjalan menuju Toko buku yang letaknya berada satu lantai di atas tempat café yang baru saja kita tinggali. Dalam hitungan detik, jemarimu sudah merengkuh jemariku. Membuatku selalu nyaman dan terjaga.

*

“Makasih yah, buat hari ini.” Kataku, setelah turun dari motormu. Kini, aku berdiri di sisi kiri motormu.
Kau membuka helm fullface mu, mengangguk lalu tersenyum, “Aku juga, makasih yah.” Sahutmu, lalu mendekatkan bibirmu ke arah telingaku, membisikkan tiga kata yang selalu membuat darahku berdesir hebat, “Aku sayang kamu.” Lalu kau mengecup pipiku. Aku yakin, sekarang, rona wajahku sudah semerah tomat. Uhm..bahkan semerah cabai. Aku hanya mengangguk canggung. Aku rindu hal ini.
“Aku pulang, ya? Salam buat orang tua kamu sama Kak Kiki.” Pamitmu akhirnya, lalu memakai helm fullface mu kembali. Aku mengangguk, dengan rona wajah yang belum kembali. Kau tersenyum, mulai menyalakan mesin motor kembali. Dalam hitungan detik, motormu sudah tidak nampak. Di hadapanku kini hanya jalanan perumahan yang kosong.

Kadang aku pun meragu
Engkau tampak beda, tak seperti dulu

Sebenarnya tak ada perbedaan yang begitu nyata Hanya saja, aku merasa setiap kali kau menatapku, dalam bola matamu tak mengandung apapun. Maksudku, bukan tatapan matamu yang mampu mencairkan lapisan es yang membeku di hatiku. Bukan sorotan seperti biasanya yang terpancar dari sana. Aku menarik nafas dalam-dalam. Berdoa dalam hati kalau itu hanya perasaan burukku. Aku lalu berjalan memasuki pekarangan rumahku. Seraya terus menahan air mata yang entah mengapa menyeruak untuk mengaliri pipiku.

*

Aku hanya mampu duduk di sudut café. Menyembunyikan wajahku di balik masalah Girlfriend edisi terbaru. Semoga majalah ini tidak terbalik. Mataku terfokuskan pada 1 titik. 1 meja. Dan 2 manusia. Aku melihat kau. Tepatnya, aku sedang mengintip kau. Kau duduk di sebrang sudut yang berlawanan denganku
Wanita yang duduk di depanmu itu sedang menutup mulutnya, berusaha meredam tawa karena -sepertinya- lelucon yang kau buat. Sementara kau sendiri tertawa lepas. Walau tidak kencang.
Dibalut dress bermotif bunga-bunga kecil berwarna kuning susu, dan selop highheels, sekitar 3 cm, membuat wanita itu tampak manis. Sangat manis. Bahkan, cantik. Rambutnya yang ikal di bawah, ia ikat setengah ke belakang, di jepit menggunakan jepit yang berhiaskan pita berwarna merah. Penampilannya memang sangat berbanding terbalik denganku. Aku memperhatikan tubuhku, -masih dalam keadaan duduk- aku hanya memakai kemeja, celana jeans, dan sepatu flat.
Sepertinya memang itu yang kau suka darinya. Mungkin karena aku tak berpenampilan seperti dia, kau berpaling dariku?
Selanjutnya, aku mulai melihat kau mengusap ubun-ubun wanita itu. Rasanya saat ini juga aku ingin mendatangi mejamu dan menggebraknya. Aku sangat tidak rela. Panas menjalari dadaku. Titik air mata mulai di produksi oleh mataku. Rasanya sakit sekali. Aku menyesal mengapa aku pergi ke café ini? Menyesal, mengapa aku harus menguntitmu?
Aku membiarkan air mata mengalir di pipiku. meningglakan jejak-jejaknya. Membawa setiap perih yang semakin aku rasakan. Aku harap air mata itu akan membawa perih itu pergi. Aku yakin, majalah yang sedari tadi ku pegang untuk menutupi wajahku bergetar hebat.
Aku ingin kamu yang menghapus jejak air mata ini……

*

Mungkin waktu, yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini…………


“Hari ini kamu kemana?” tanyaku, setelah kita berbincang mengenai sekolah kami masing-masing. Dapat kudengar dari ujung telepon bahwa kau menghela nafas.
“Pergi nganter Iley beli cat air.” Jawabmu. Menjadikan adikmu yang berbakat dalam hal melukis, menjadi kambing hitam. Kali ini aku yang menghela nafas berat.
“Kka…”
“Ya, Shil?” sahutmu. Aku meringkuk di sudut kamar. Tepatnya di belakang pintu kamarku. Memeluk boneka bebek pemberianmu saat bulan lalu, hari jadi kita yang ke 14 bulan.
“Kamu suka gak sama penampilan aku?” kataku, menggigit ujung boneka itu.
“Maksudnya?”
“Ya…gitu. Maksud aku, kamu takutnya selama ini kamu gak suka sama style aku yang santai banget. Takutnya kamu suka sama yang pa….”
“Aku suka kamu. Kamu yang apa adanya.” Putusmu tiba-tiba. Entah mengapa ucapanmu tadi sukses membuat bening hangat menganak sungai di kedua pipiku. Sejak kapan kau suka berbohong kepadaku?
“Kamu nangis?” gawat, sepertinya isakanku terdengar olehnya. Aku menarik nafas dalam-dalam.
“Ah…enggak…a..aku lagi flu.” Jawabku beralasan. Untung masuk akal.
“Jangan bohong sama aku.” Katamu. Kamu yang bohongin aku…
“Nggak kok. Aku emang beneran lagi flu. Cuaca lagi gak enak banget.” Cicitku, seraya mengusap pipiku, menyeka jejak bening hangat disana.
“Udah minum obat? Jaga kesehatan ya, Shil.” Nada suaramu begitu lembut. Sifatmu yang perhatian tak pernah hilang. Membuatku melupakan sejenak tentang masalah di café siang tadi.
“Udah kok. Kamu juga jaga kesehatan ya.” Balasku. Setidaknya aku tidak berbohong. Aku memang sedang terserang gejala flu, dan aku memang sudah minum obat pereda gejala flu.
“Aku kangen kamu.” Lirihmu tiba-tiba. Tatapanku kosong, memkirkan kita. Sekolah kita yang berbeda. Kita yang disibukkan dengan berbagai aktifitas sekolah. Membuat kita terkadang susah untuk bertemu. Apalagi akhir-akhir ini.
“Aku juga kangen kamu.” Balasku. Menggenggam ponselku kuat-kuat. Aku ingin kau berada di sisiku, menjadikan bahumu untuk tempatku melepas rindu kepadamu.
“Besok aku jemput kamu, ya? Besok sabtu, kan? Kita jalan.”
“Oke.” Jawabku bersemangat.
“Sekarang kamu tidur yah. Udah malem.”
“Kamu juga tidur sekarang.”
“Iyaaaa….. aku sayang kamu. Malam Shillaku.”
“Aku juga sayang kamu.. malam juga Cakkaku”

Klik.
Sambungan telepon pun terputus. Aku mendekap ponselku. Berharap ponsel ini akan berubah wujud menjadi kau. Aku merindukan kau yang selalu berkata jujur kepadaku. Aku rindu kau yang membuat malam-malamku dipenuhi oleh deraian tawa. Aku rindu kau.
Terhitung telah 3 minggu kau mulai berubah. Semenjak pertemuan kita yang kurang intensif. Akibat aku yang sibuk dengan jabatanku sebagai sekretaris MPK. Apa semenjak itu kau mulai mengenal gadis itu?
Sampai kapan kau akan terus membohongi aku?

*

Ku tak pernah berfikir
Ada yang lain di hatimu
Tapi bila, begitu adanya
Jangan kau membisu
Ungkapkan padaku

Akhirnya dengan susah payah aku selesai membuat rambut lurusku menjadi ikal. Ikal di bawah apa itu namanya? Keriting gantung? Butuh waktu 2 jam untuk membuat rambutku seperti ini.
Setelah itu, aku mengganti bajuku. Menggunakan dress polos berwarna pink lembut dengan hiasan pita di belakangnya, -yang ku dapat setelah aku mengubek isi lemari Mba Sivia, sepupuku yang tinggal di rumahku.
Aku berputar. Memperhatikan penampilanku yang sangat-sangat berbeda ini. Aku terlihat lebih anggun. Sebenarnya ini bukan aku sama sekali. Tapi mungkin kau akan lebih suka jika aku seperti ini.
Aku melirik jam tangan Monol yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. 10 menit lagi….dari waktu yang kau sendiri janjikan untuk menjemputku. Aku menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhku. Tidak terlalu banyak. Cukup.
Dengan tergesa-gesa aku menuruni tangga, menuju ruang TV, dimana aku telah menyiapkan sepatu highheels -yang lagi-lagi kudapat dari kamar Mba Sivia. Sedikit keteteran saat aku mencoba berjalan menggunakan sepatu itu. Aduh, aku cewek tulen, kan?
Kak Kiki, Mamah, dan Papah hanya menggelengkan kepala melihatku berulang kali terjatuh akibat high heels itu. Demi kau, aku berulang kali terjatuh, agar aku terbiasa memakai sepatu ini. Demi kau.
Aku duduk di sofa depan TV, seraya memutar-mutar channel. Sudah telat 3 jam. Tidak biasanya. Rambutku yang kubuat ikal sudah kembali ke posisinya semula. Lurus. Kau kemana? Aku lelah menunggumu. Sekarang, sudah jam 9.30 malam. Kalau saja hari ini jadi, hari ini adalah dinner bersama kita yang ke 3.
Aku sengaja tidak menghubungimu. Aku ingin tahu, seberapa ingat sih, kau dengan janjimu sendiri? Dulu, kau selalu ingat hal sekecil apapun tentang kita, lho.
Kak Kiki, Mamah, dan Papah sudah masuk ke kamar. Mereka menasihatiku agar aku juga sebaiknya tidur. Setidaknya, agar aku berselimut. Mengingat dressku yang tidak ber’lengan’. Aku tidak mempedulikan nasihat mereka. Aku masih terus duduk. Menunggu kau. Aku yakin kau akan datang. Setelat apapun itu.
Hoaaahm…ngantuk. Tiba-tiba ponselku berdering. Membuatku sedikit tersentak. Terdengar ringtone yang hanya aku pasang jika kau yang menelepon aku. Dengan malas, tapi sangat senang, aku mengangkatnya.
“Apa?” kataku langsung. Nadaku datar.
“Aku di depan rumah kamu Shil, mau mencet bell takut ngebangunin orang-orang.” Sahutmu. Aku kaget. Segera saja aku berlari mendekati pintu rumah. Benar saja, aku mengintip melalui gorden, kau berdiri di depan gerbangku.
“Iya aku ke luar.” Kataku yang langsung mematikan dan menaruh ponselku ke meja yang berada di ruang tamu. Membuka pintu rumah, dan berjalan mendekati kau. Aku membuka gerbang, membiakan kau masuk. Lalu berjalan menuju teras. Kau mengikuti dari belakang.
“Maaf.” Katamu, setelah duduk di kursi sebelahku.
“Maaf buat apa?” tanyaku pura-pura heran. Mataku menatap lurus ke arah pepohonan di halaman rumahku. Cahaya lampu taman membuatnya terang.
“Maaf udah gak nepatin janji aku. Tadi aku ada urusan sama anak-anak band.” Alibi mu. Entah benar atau tidak, aku sudah tidak ingin mendengar alasan apapun. Sebelumnya kau tidak pernah melanggar janjimu.
“Iya gak apa-apa. Ini pertama kalinya, kan, kamu ngelanggar janji? Baru sekali, santai aja.” Kataku. Suaraku perlahan mulai bergetar.
“Maaf.”
“Udah lah gak apa-apa. Aku capek. Mau tidur. Kamu pulang aja. Kamu juga capek, kan?” aku masih menatap lurus ke depan. Membangun pertahanan sekuat-kuatnya agar cairan hangat itu tidak mengalir. Setidaknya untuk saat ini.
“Tapi kok, penampilan kamu berubah jadi…feminim?” tanyamu. Aku yakin kau baru saja memperhatikan penampilanku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Bukankah kau menyukai yang seperti ini?
“Ehm…bukan. Maksud aku, biasanya style kamu kan simple, bukan pake dress kayak gini.” Kali ini aku menatapmu. Kulihat kau yang sedang menggaruk tengkukmu.
“Udah lah gak penting. Aku capek. Mau tidur. Kamu pulang. Istirahat.” Sahutku asal lalu berdiri dari kursi dan berjalan ke dalam rumahku. Kau mengikutiku berdiri. Sampai saat aku hendak menutup pintu, kau mencegahnya.
“Shil, sekali lagi, maaf. Aku sayang sama kamu. Kamu cantik banget hari ini.” Ucapmu. Lalu aku langsung kembali menutup pintu. Dengan tangan bergetar, aku berusaha menguncinya.
Tiba-tiba saja aku sudah tidak mampu menopang tubuhku sendiri. Aku merosot. Meringkuk di balik pintu. Dengan memeluk lutut, air mataku turun dengan deras. Mengalir hingga menganak sungai di pipiku. Aku kangen kamu Kka..kangen kamu yang dulu.

*

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini…

“Kamu dimana?” tanyaku dari ujung telepon. Dapat kulihat kau berjalan menjauh dari meja yang sedang kau tempati dengan gadis itu. Di balik majalah GoGirl yang aku pegang ini, -kejadianya seperti 2 hari yang lalu. Disudut cafe, menguntitmu- air mata setitik demi setitik mulai mengalir. Akhir-akhir ini aku menjadi begitu lemah. Aku suka caramu membuatku menangis.
“Aku lagi kumpul sama band. Kenapa?” aku menarik nafas, menghembuskannya perlahan. Sejak kapan membohongiku menjadi salah satu hobimu?
“Nanti sore, jam 5, ke rumah aku. please. Aku tunggu kamu sampai kamu dateng.”
Klik.
Tanpa menunggu jawaban, aku menutup telepon. Kulihat kau memandang heran ke layar ponselmu, lalu kembali duduk di bangkumu yang semula. Memberi alasan yang masuk akal kepada gadis itu.
Dari mejaku, aku hanya berdoa. Agar hubungan kita bisa membaik. Menjadi seperti sedia kala. Setidaknya, jika nanti kita berpisah, aku berharap semua yang terbaik.
Tak perlu aku menghalangi wajahku menggunakan majalah, berjalan keluar dari café, setelah sebelumnya meletakkan selembar uang 20.000 dan selembar uang 10.000. kurasa cukup untuk membayar jus strawberry yang tadi kupesan. Aku tahu, kau tak mungkin mengetahui bahwa ini aku. Karena posisi dudukmu memunggungi pintu masuk café.

*

Ku ingin bertanya
Sungguhkah kau sayang aku?
Kadang aku pun meragu
Engkau tampak beda
Tak seperti dulu…

Aku terus menarikan jemariku di atas gitar kesayanganku ini. Membuat nada-nada untuk sebuah lagu yang sedang mejadi lambang hatiku. Dengan lirih, aku bernyanyi mengiringi nada dari petikan gitar itu.

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini…

Aku mengamati tiap tetes air hujan yang mebasahi jendela kamarku. Setiap tetesnya melambangkan air mataku. Sebanyak itu air mata yang ingin aku keluarkan untukmu. Aku melirik jam yang terparkir manis di meja riasku. Tepat di hadapanku. Sudah telat 2 jam. Aku masih menunggumu.

Ku tak pernah berfikir
Ada yang lain di hatimu
Tapi bila begitu adanya
Jangan kau membisu
Ungkapkan padaku….

Tepat saat itu, pintu kamarku terbuka. Dengan enggan aku melihat siapa yang datang. Doaku terkabul. Kau yang datang. Kau yang lalu, langsung duduk di samping kiriku. Aku memalingkan wajah, kembali menatap butiran-butiran air hujan yang mengaliri jendela kamarku.

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikan dirimu dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini….

Takkan ada yang mampu
Menggantikan satu dirimu…..

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikan dirimu dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini….

Aku terus bernyanyi. Memetik gitar. Tak menghiraukan kau yang sudah duduk di sampingku. Air mata ini dengan deras sudah menganak sungai.

“Shiiiil…….” Katamu. Lalu merangkulku. Mengecup keningku. gitarku jatuh, aku sudah tidak kuat untuk memegang gitar itu. Kondisiku sudah sangat lemah.
“Maafin aku.. kamu tau semuanya?” aku hanya mengangguk. Berharap kau yang akan jujur padaku. Kau yang akan menceritaan kejadian di café itu. Menceritakan semuanya.
“Aku khilaf Shil…” aku tidak mengindahkan ucapanmu. Aku diam menatap langit yang sudah tidak lagi menangis. Tapi hatiku masih menangis, walau air mata perlahan sudah mulai surut.
“Dia Ify, aku kenal dia udah 3 bulan, aku sama dia pacaran udah 3 minggu.” Rasanya saat itu juga aku ingin menamparmu. Tapi percuma, tak bisa mengeringkan luka ini.
“Aku bakal mutusin dia Shil. Aku lebih sayang sama kamu. Kamu segalanya buat aku.” lalu kau memegang kedua bahuku. Memaksaku untuk menatapmu. Menatap dalam-dalam kedua bola matamu yang bening itu. Sekali lagi, bening itu mengalir dari sudut mataku.
“Maafin aku, udah bikin kamu nangis.” Aku hanya mengangguk lemah. “Aku bakalan mutusin Ify dan jujur ke dia malam ini juga.” sebenarnya, aku tidak tega dengan gadis itu, karena sesungguhnya gadis itu pun tidak bersalah. Ah..tidak tahu juga, sih.
“Kemarin kamu pakai dress dan high heels itu, pengen kayak Ify? Kamu ngeliat aku sama Ify?” aku mengangguk lagi. Dapat kulihat penyesalan terpancar dari bola matamu.
“Gak apa-apa. Seenggaknya sekarang kamu udah jujur ke aku. dan kamu udah menyesali semuanya.” Lalu kau memelukku. Mengecup keningku. Kau kembali membuat bulu kudukku meremang. Aliran darahku berdesir tidak karuan. Jantungku berdetak 1km/detik. Kau telah kembali.
Lalu kau mengambil gitar yang tadi sempat terjatuh, memangkunya. Mulai menarikan jemarimu di atas senar-senarnya. Menciptakan nada yang berirama.

I don’t know how to speak for anyone
But my self you see darling there is nothing I can say
that will save you anyways
I’ll scream loud at the top of my lungs tonight
‘cause you know you will always be my light
Shooting stars could never be this bright
Do you know you always be my light?

Screaming out your name
I’m not used to this
There’s no turning back
There’s no going home

I won’t breathe until you just tell me everything is alright
I am not scared of losing this
I’m afraid of losing you
I’m sorry that this will not end
But can’t find the strenght to speak
‘cause on the calendar of your events, I’m last week
Keep your eyes closed and we’ll make it through another day alive
But if we sit here thinking we are just wasting precious time

So instead of thinking that were dead let’s take apart what we have left
Lay it out in front of us and take the tings that we don’t trust
Screaming out your name
I’m not used to this
There’s no turning back
There’s no going home

I won’t breathe until you just tell me everything is alright
I am not scared of losing this
I’m afraid of losing you
I’m sorry that this will not end
But can’t find the strenght to speak
‘cause on the calendar of your events, I’m last week
I don’t know how to speak for anyone
But my self you see darling there is nothing I can say
that will save you anyways
I won’t breathe until you just tell me everything is alright
I am not scared of losing this
I’m afraid of losing you
I’m sorry that this will not end
But can’t find the strenght to speak
‘cause on the calendar of your events, I’m last week
Darling there’s nothing I can say that’ll save you anyways

Aku tersenyum. Memelukmu. Aku tidak sanggup untuk kehilangan kau. Aku harap, kau pun sama.

*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar