Selasa, 29 November 2011

My Sweet Honey

By: Adilah Nida Rinjani


“aaaa!!!” terdengar teriakan seorang gadis dari dapur. Teriakan itu membuat Kakak dan Papanya khawatir dan segera memeriksanya.

“ada apa, Shilla!” Tanya sang Kakak khawatir. Yap! Gadis yg berteriak itu bernama Shilla. Gadis yg duduk di bangku SMA ini adalah idaman para lelaki di sekolahnya. Gadis cantik, baik, dan polos, yg selalu dijaga baik oleh Papa dan Kakaknya. Kakaknya juga cakep sama seperti adiknya, ia bernama Gabriel.

“Roti bakar untuk sarapan jadi hangus gini, nih!” keluh Shilla.

“apapun yg dimasak Shilla.. pasti terasa enak di lidah Papa!” hibur Papa.

“ya.. karena Shilla memasak Roti bakar ini dengan cinta..” tambah Gabriel.

“Pasti rasanya paling enak sedunia!” dengan penuh semangat Papa dan Gabriel menikmati sarapan hangusnya itu.

“Papa.. Kakak..”

“aduh, udah jam segini, nih! Bisa telat!” kaget Shilla saat melihat jam.

“dah, Shilla! Kalo ada apa-apa langsung telepon Papa ya!” pamit Papa.

“Ya, disekitar kita banyak cowok.” Tambah Gabriel.

“sip! Tenang aja!” balas Shilla.

“mana mungkin bisa tenang? Kamu kan gadis yg manis banget.. pasti banyak cowo yg iseng kalau melihat kamu..”

“kalau tidak pergi sekarang, nanti Kakak telat lho?”

“pokoknya kamu harus hati-hati. Kami duluan ya!” pamit Papa dan Gabriel. Sejak Mama Shilla meninggal, Papanya dan Gabriel sangat mengkhawatirkan Shilla.

“gue juga harus cepet berangkat nih!”

@sekolah

“Pagi Shilla..” saat Shilla melewati gerbang sekolah, banyak cowo yg menyapanya dengan senyum lebar. Dan Shilla pun membalasnya dengan senyuman manis yg membuat para cowo terbang.

“Pagi juga..” balasan Shillan ini langsung mendapat respon dari para cowo.

“bahagianya bisa melihat senyuman malaikat di pagi hari!”

“kita jadi punya tenaga buat berjuang hari ini!” Shilla hanya membalasnya dengan senyuman dan tawaab kecil. Tiba-tiba terdengar suara yg memecah kebahagian (?) saat itu.

“minggir!”

CIIIIITT!!!

Seorang cowo berparas keren tiba-tiba menghentikan sepedanya setelah menerobos beberapa cowo yg sedang mengerubungi Shilla. “woyy! Awas donk, ngalangin jalan aja! Mau gue tabrak, hah!”

DHEGG!

“sini Shill!” Shilla yg masih terdiam langsung diajak atau ditarik tangannya kepinggir jalan oleh seorang cowo. Orang lain yg ada di sekitar langsung berbisik-bisik.

“kalo mau tebar pesona jangan disini! Ini sekolah, di tempat lain aja deh!” sahut cowo bersepeda itu.

“huh!” ia pun langsung melajukan kembali sepedanya.

“huh! Dia ga pernah berubah, masih aja judes!” kata cowo yg tadi menarik Shilla ke pinggir jalan. Alvin.

“emang dia siapa sih, Vin?” Tanya Shilla.

“Cakka Nuraga, murid kelas X-A. sebenernya sih dia ga jahat, tapi ya gitu lah. Sikapnya judes!” jelas Alvin lengkap pada Shilla.

“oh..” respon Shilla.

‘Cakka.. keren banget.. warna rambutnya kecoklatan ketimpa sinar matahari.. wuahh!!’ batin Shilla.

@kelas X-A (istirahat)

Shilla berniat menemui Cakka. Saat matanya menangkap sosok Cakka, ia pun langsung menghampiri dan menyapanya.

“hai.. Cakka..” sapa Shilla saat sudah tepat disamping meja Cakka. Murid atau tepatnya cowo disekelilignya langsung berbisik-bisik. “ngapain ya Shilla nemuin si Cakka?”

“Siapa loe?” Tanya Cakka cuek.

“gue Ashilla Zahrantiara, panggil Shilla aja. Gue yg tadi pagi hampir loe tabrak pake sepeda.” Jelas Shilla.

“hmm, mau apa?”

“gu.. gue.. gue suka sama loe, mau ga jadi cowo gue?” ungkap Shilla.

Semua orang menoleh dan heran. Terlebih Cakka yg heran. Baru saja tadi pagi ketemu dan beberapa detik yg lalu berkenalan, ia langsung mengungkapkan perasaannya. Shilla gadis polos yg bisa dibilang terlalu dimanjakan. Ia sama sekali tidak memikirkan gengsi. Tanpa pikir lama, Cakka langsung menjawab.

“ga ah!” jawab Cakka cuek.

“knapa loe nolak gue?” Tanya Shilla serius.

“udahlah, buang waktu aja!” balas Cakka yg mendapat respon tidak sedap dari lelaki di sekitarnya termasuk sahabatnya.

“Cakka, loe sombong banget! Huu..!” keluh Ray -sahabat Cakka-

“Cerewet ah loe!” balas Cakka.

“kalo cuma itu yg mau loe omongin, udahlah sana!” usir Cakka yg merasa risih.

“gue akan berjuang sampai loe bilang ‘iya’!” sahut Shilla bersemangat.

“hah?!” kaget Cakka. Shilla kembali ke kelasnya dan mulai memikirkan cara agar bisa mendapatkan Cakka.

‘kalo loe nolak gue skarang.. gue akan berusaha jadi cewe yg loe sukai..’ tekad Shilla dalam hati.

***

Sudah berminggu-minggu Shilla terus mengjar-ngejar Cakka. Shilla masih berusaha supaya bisa mendapatkan Cakka. Dengan cara apapun asal baik, pasti Shilla lakukan. Seperti…

Istirahat :

“Kka, gue buatin bekal nih. Masakan gue sendiri lho..”

“sory, tapi gue lebih suka roti.”

Pulang sekolah :

“sini, gue bersihin sepeda loe ya..”

“ga usah”

‘berjuang terus!’ tekad Shilla.

Istirahat (lain hari) :

“Cakka.. Cakka.. loe dimana sih?!” saat itu, Shilla sedang mencari-cari Cakka yg ternyata sedang bersembunyi di belakang sekolah bersama sahabatnya, Ray.

“Kka, loe dicariin Shilla tuh!” bisik Ray santai sambil memakan roti. Ray memberikan buku catatannya yg sudah ia tulis dengan berbagai huruf. Begini lah isinya..

“Kka, knapa sih loe ga suka sama Shilla?”

Saat Cakka membacanya, matanya hamper loncat dan muncul tanduk di kepalanya.

“gue ga bisa jadian sama dia bego!” jawab Cakka dengan suara yg tidak terlalu keras karena Shilla berada di sekitar situ.

“hmm, gue sih rela berkorban apapun, demi Shilla jadi pacar gue!!! >,

“kalo loe suka, ya tembak aja! -__-“ saran Cakka cuek.

“tapi kakaknya itu yg jadi masalah.. serem banget!”

“emang knapa?”

“semua cowo yg berani deketin Shilla, pasti digebukin sampai babak belur!” jelas Ray

“lagian kita udah ada kesepakatan ga tertulis untuk ‘mengawasi Shilla tanpa menyentuhnya’. Gitu.. emang loe ga tau Kka?” lanjut dan tanya Ray.

“hmm.. Oh ya? Gue ga tau tuh.. nama kakaknya siapa sih, Cap?” Tanya Cakka sambil senyum-senyum sendiri.

“Gabriel, Gabriel Stevent Damanik lengkapnya.”

“oh..”

***

Suatu hari Pulang sekolah @taman sekolah :

Shilla duduk dirumput hijau. Ia memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tanyannya.

“kok Cakka sama sekali ga peduli sama gue sih? :’(“ gumam Shilla sesenggukan.

“apa daya tarik gue kurang ya?”

“eh iya, Cakka kan suka baca majalah kumpulan model.. mungkin daya tarik kaya gitu yg belum gue miliki..”

Shilla beranjak ke kamar mandi untuk ganti seragamnya. Kebetulan sekali, setiap hari ia selalu membawa kaos ganti. Shilla menaikan roknya beberapa centi dan mengganti bajunya. Saat ini, ia memakai rok diatas lutut dan kaos ngetat. Seragamnya ia masukan dalam tasnya. Ia segera keluar dan menuju jalan yg biasa di lewati Cakka saat pulang. Benar saja, ternyata Cakka belum jauh. Shilla menyapanya.

“Cakka..” Cakka yg merasa dipanggil menoleh dan kaget. Cakka heran melihat pakaian yg di pakai Shilla.

“heh! Loe bego ya? Pake baju super pendek di musin hujan! Sekarang juga ladi dingin cuacanya..” sahut Cakka.

“gue kira loe suka gaya kaya gini..” Shilla menunduk.

“huh! Harusnya loe bersikap wajar aja..” kata Cakka. Shilla mengangkat kepalanya dan menatap Cakka dalam. Begitu pun sebaliknya.

“kalo gue emang suka sama loe, gue pasti mau jadian sama loe tanpa harus loe pake baju begituan segala. Gue malah ga suka cewe yg bajunya kaya gitu. Sikap loe yg kaya gini, malah buat gue susah tau!” keluh Cakka lembut.

‘gue.. bikin Cakka susah..? :’(‘ Shilla mulai menitikan air matanya.

“maaf..” Cakka yg melihatnya merasa kasihan dan tidak enak.

“hmm, gue ga akan jadian sama loe, tapi bolehlah kalo pulang bareng..”

“hah?”

“jangan malah banyak Tanya donk! Dimana rumah loe?!” kesal Cakka

“hehe… iya iya.. yuk!” ajak Shilla

“tunggu, tuh ada toilet umum. Ganti baju loe dulu pake baju seragam. Kalo ga diganti gue ga akan nganter loe pulang.” Suruh Cakka dingin.

“oke! Bentar ya, jangan kemana-mana, tunggu sini..”

“iya iya.. ribet amat sih..! buruan..!” teriak Cakka. Sekitar 10 menit kemudian Shilla selesai.

“yuk!”

“moga besok hujan..” ucap Shilla ditengah perjalanan.

“apa enaknya?!”

“kan bisa hujan-hujanan.. asik tau!” jawab Shilla layaknya anak kecil.

‘baru kali ini, Cakka ngajak gue.. huaa! Seneng..!’ batin Shilla berteriak saking senangnya. Mereka pulang jalan kaki, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah masing-masing. Saat mereka melewati taman yg banyak bunga, Shilla tiba-tiba berhenti dan menangkap satu kata ‘indah’ untuk taman itu..

“Kka.. kesana yuk! Liat, banyak bunganya.. indah banget..!” ajak Shilla. Cakka menoleh dan maranya melotot yg dapat Shilla artikan sebagai jawaban ‘ngga’.

“ma.. maaf.. gue terlalu seneng, jadi cerewet gini..”

“loe emank cerewet, tapi gue juga terbiasa ngomong terus terang sih..” balas Cakka yg langsung menghentikan langkahnya.

“loe selalu bicara kaya gini di rumah?!” Tanya Shilla kaget

“ya. Bunda gue malah lebih blak-blakan lagi!” Cakka menoleh.

“Hah?! Lebih terus terang dibanding loe?!!!”

“iya.. pokoknya lebih kasar dan lebih terbuka dibandingkan gue..” sahut Cakka disertai tawanya dan langsung melanjutkan jalannya. Shilla kaget.

‘wah, Cakka punya ekspresi kaya gitu.. ucapannya emang judes, tapi kayaknya dia senang, ya? Hihi.. gue pengen liat lagi semua ekspresi Cakka..!’ batin Shilla senang.

Shilla sudah tertinggal beberapa langkah dari Cakka. Shilla berlari untuk menyamai posisinya dengan Cakka. Tapi, saat tinggal selangkah disamping Cakka..

“wah.. aaahhh!!!” Shilla tersandung batu dan tidak bisa menyeimbangkan badannya. Shilla hamper terjatuh, tapi dengan sigap Cakka menahan tubuh Shilla. Mata keduanya saling beradu, sampai Shilla tersadar.

“makasih” Shilla berterima kasih masih dalam posisi dalam pelukan Cakka.

“hati-hati donk! Bego!” Cakka berteriak masih dalam posisinya. Shilla yg kaget langsung mendorong tubuh Cakka, tapi ia malah mendorong muka Cakka keras sambil berteriak. “kyaa!!!”

Alhasil, hidung Cakka mengeluarkan darah yg tidak bisa dibilang sedikit, tapi tidak banyak juga.

“loe tuh ya..” ucap Cakka lembut, tapi berubah menjadi bentakan, “gue kan nolongin loe kok malah didorong gini sih!!!”

“maaf, gue ga sengaja.. tadi.. gue bergerak spontan sih..” ucap Shilla

“mm, nih!” Shilla mengeluarkan selembar tisu dan masker.

“kalau pake tisu dan ditutup masker gini hidung loe yg berdarah ga akan keliatan..”

“kaya orang sakit..” keluh Cakka.

Tiba-tiba.. CUPP.. Shilla mencium pipi kanan Cakka dengan lembut. Sedangkan yg dicium hanya kaget dengan mata yg hampir loncat.

“maaf ya..”

“loe apa-apaan sih!” kesal Cakka sambil menjauh dari Shilla.

“itu mantra. Kakak bilang, kalo orang luka atau sakit dicium, bakal cepet sembuh..” kata Shilla tersenyum watados.

“argh! Loe ditipi sama kakak loe tau!”

“cih.. ga nyangka gue bakal jadi gini, cuma karana nganter loe pulang.. maskernya norak banget lagi! Argh!” lanjut Cakka sambil ngaca di kaca took sebelahnya. Cakka terus nyerocos (?) tentang maskernya sampe orang yg udah nyium dia.

‘hihi.. wajahnya merah padam.. ekspresi marah.. ekspresi senang.. juga ekspresi malu-malu.. ekspresi yg ganti-ganti.. Lucu banget!’ batin Shilla yg terus menatap Cakka.

“ah, udahlah.. pulang yuk! Udah mau hujan nih!” ajak Cakka yg langsung berjalan didepan mendahului Shilla.

Tak seberapa lama kemudian.. mereka sudah dekat rumah Shilla. Cakka hanya mengantarnya sampai depan perumahan.

“Cakka, thanks buat hari ini. Selama gue sama loe, gue nemuin banyak hal menarik tentang loe.” Ucap Shilla. Tiba-tiba… “Hatchi..!” #Shilla bersin ;P#

Cakka memakaikan jaketnya pada Shilla, “hmm, ya. Loe masih harus jalan kan? Jangan sampai masuk angin! Gue ga mau dipukulin nyokap gue karna biarinin seorang cewe kedinginan.” Sahut Cakka dan langsung berlari meninggalkan Shilla.

Shilla pun langsung berlari menuju rumahnya. Sampai di rumah Shilla langsung menyapa kakaknya.

“Kak, Shilla pulang..” Kakaknya yg sudah menunggu cukup lama langsung menghampiri Shilla dan menggoncang-goncang tubuh Shilla.

“knapa kamu terlambat? Kakak khawatir banget!”

“hehe.. maaf.. Shilla baik-baik aja kok Kak..”

“eh, Jaket siapa tuh?”

“i..ini… rahasia…” Shilla langsung berlari menuju kamarnya meninggalkan Kakaknya yg heran.

“kok Shilla main rahasia-rahasian nih.. :’(“

Baby, baby, baby, oh

Like baby, baby, baby, no

Like baby, baby, baby, oh

I thought you'd always be mine, mine

HP Gabriel berbunyi. Ia pun segera mengangkatnya.

“hallo, knapa?”

“….”

“oh ya? Sip, thanks infonya.”

“tutt” sambungan terputus.

Keesokan harinya…

Pulang sekolah…

“thanks untuk pinjaman jaketnya, ya…” sahut Shilla sambil berlari menyamakan dengan laju sepeda Cakka.

“hidung loe udah gapapa,kan?” Tanya Shilla.

“cerewet ah! Cuma diantar pulang aja banyak tanya!” risih Cakka.

“kalo loe emang ga suka, pasti keliatan dari mukanya kok.. skarang loe Cuma malu kan?” teriak Shilla. Cakka melengos menutupi wajahnya yg sudah merah padam.

“udahlah!”

“iya, hihihi…”

“hmm” tiba-tiba ada panah mainan yg tertancap di kening Cakka. Cakka dan Shilla kaget.

“a.. apaan nih?! Panah mainan? Bahaya banget!”

“kalo itu panah beneran loe pasti udah mati!” kata orang yg memanah Cakka.

“Kakak?!” kaget Shilla.

“ternyata loe emank bener deketin Shilla, adikku yg manis. Berani banget loe..” kata orang tersebut yg ternyata Gabriel.

“oh, jadi loe Kakak yg sister complex, Gabriel. Kurang kerjaan banget sih loe, sampai berbuat kaya gini..” balas Cakka.

“kenapa Kakak..” tanya Shilla tapi terpotong oleh Gabriel.

“adik kelasku bilang kamu dibuntuti cowo aneh..” jelas Gabriel

“tapi Kak..” Gabriel melemaskan jari-jariya.

“Cakka, cepat lari!” suruh Shilla.

“hah?!” Cakka bingung. Gabriel langsung mencengkram kerah baju Cakka.

“jangan pernah dekati Shilla lagi!” ucap Gabriel pelan tapi tajam.

“lepasin gue!”

‘haduhh.. gimana nih?! Gue harus buat Kakak berhenti..’ batin Shilla.

“kalau kamu masih berkeras…” ucapan Gabriel terpotong karena Shilla melemparnya dengan kerikil kecil.

“Kakak jahat!” teriak Shilla.

“hah?! Stop Shill!”

“aku yg deketin Cakka! Karna aku suka Cakka..” Shilla menggenggam tangan Cakka dan menunduk.

“Kakak tega nyakitin Cakka! Aku benci Kakak!” teriak Shilla. Gabriel sangan kaget dengan perkataan adik kesayangannya. Gabriel jatuh berlutut ditanah.

“ah… Shilla.. benci.. Shilla benci aku.. sampai menantangku berkelahi… apa bagusnya cowo itu.. padahal aku selalu melindungi Shilla..” sesal Gabriel.

“kyaa…!!!” teriak Shilla. Cakka menggendong Shilla naik kesepedanya.

“Shilla!” teriak Gabriel

“kalo loe ga mau dibenci adik loe… sebaiknya loe restuin hubungan kita.. Kakak..” teriak Cakka.

“Cuma Shilla yg boleh manggil gue ‘kakak’.. huaa!!!” teriak Gabriel sekencang-kancangnya. Sementara Cakka hanya menoleh dan menjulurkan lidahnya.

“Kka.. apa Kakak gue ga akan knapa-napa?” tanya Shilla yg khawatir pada kakaknya.

“tenang aja, kayanya dia gapapa kok..”

“pengakuan cinta loe tadi.. luar biasa ya..” puji Cakka.

“gu.. gue.. gue ga bermaksud..” gugup Shilla.

“gapapa kok.”

“hah?!”

“boleh ga kita jadian?” tanya Cakka.

“beneran nih?! Hehe… senangnya…!!!” balas Shilla senang.

“pasti kakak loe bakal marah-marah liat kita berdua.. haha.. seru nih..!”

“eh.. hehehe…”

‘percintaan ini memang baru dimulai.. tapi saat ini, gue seneng banget..’ batin Shilla senang.

***

The End.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar